Eksplorasi luar angkasa juga menjadi arena dramatis lain untuk kompetisi Perang Dingin. Pada 4 Oktober 1957, sebuah rudal balistik antarbenua R-7 Soviet meluncurkan Sputnik (bahasa Rusia untuk “pelancong”), satelit buatan pertama di dunia dan objek buatan manusia pertama yang ditempatkan di orbit Bumi. Peluncuran Sputnik mengejutkan, dan tidak menyenangkan, bagi kebanyakan orang Amerika.
Di AS, luar angkasa dipandang sebagai perbatasan berikutnya, perpanjangan logis dari tradisi eksplorasi Amerika yang agung, dan sangat penting untuk tidak kehilangan terlalu banyak tanah dari Soviet. Selain itu, demonstrasi kekuatan luar biasa dari rudal R-7—tampaknya mampu mengirimkan hulu ledak nuklir ke ruang udara AS—membuat pengumpulan intelijen tentang kegiatan militer Soviet menjadi sangat mendesak.
Kemudian pada 1958, AS meluncurkan satelitnya sendiri, Explorer I, yang dirancang oleh Angkatan Darat AS di bawah arahan ilmuwan roket Wernher von Braun. Pada tahun yang sama, Presiden Dwight D. Eisenhower menandatangani perintah umum yang menciptakan National Aeronautics and Space Administration (NASA), sebuah badan federal yang didedikasikan untuk eksplorasi ruang angkasa.
(Susi Susanti)