3. Nyaru Tariu
Sebelum pergi berperang, masyarakat Dayak menggelar upacara nyaru tariu. Tradisi ini merupakan ritual yang menghubungkan roh nenek moyang dengan sesama rumpun Suku Dayak yang ada di satu daerah. Hal ini dilakukan agar Suku Dayak dapat lebih mudah mengidentifikasi musuh. Hanya panglima adat yang memiliki wewenang untuk berhubungan dengan roh suci atau dewa.
Untuk melakukan upacara ini, panglima adat akan membawa mangkuk merah yang berisi cat merah atau jaranang, sejenis tanaman akar yang memiliki getah bewarna merah. Mangkuk ini kemudian dibawa ke panyugu atau tempat yang dianggap keramat saat matahari terbenam. Kepercayaan setempat meyakini bahwa roh suci akan menjawab panglima adat tersebut dengan tanda-tanda alam.
Jika tubuh panglima tersebut dianggap layak, roh dewa akan merasukinya dan melindungi masyarakat Dayak. Konon, pasukan yang terbentuk setelah pelaksanaan ritual ini akan kebal senjata, dapat bertahan hidup tanpa makan dalam jangka waktu satu bulan, hingga dapat bergerak cepat dalam hutan.
(Angkasa Yudhistira)