Dari berita Cina, tentara Mongol sampai ke Majapahit pada 1 Maret 1293. Sebelumnya, mereka mendarat di Tuban, mendirikan perkemahan di tepi Sungai Brantas.
Namun peta perpolitikan di tanah Jawa telah berubah. Raja Kertanegara telah tewas dibunuh oleh Raja Jayakatwang dari Kediri. Hal tersebut tidak diketahui oleh Jenderal Ike Mese.
Kedatangan Pasukan Mongol diketahui oleh Raden Wijaya yang telah bermukim di kawasan hutan Tarik, dekat Muara Kali Brantas.
Raden Wijaya adalah menantu Kertanegara. Ia menikah dengan 4 orang putri Kertanagara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Tribhuwaneswari dipilih sebagai permasiuri, sedangkan yang lainnya sebagai istri selir.
Baca juga: Siasat Majapahit Bantai Pasukan Mongol saat Jamuan Makan
Sedangkan dalam Pararaton disebutkan bahwa Raden Wijaya hanya menikahi dua putri Kertanegara saja. Selain itu, Raden Wijaya juga memperistri seorang putri Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera bernama Dara Petak. Putri ini dibawa dari Ekspedisi Pamalayu oleh Kerajaan Singasari di tanah Melayu pada 1275 hingga 1286 M.
Kedatangan pasukan Mongol disambut oleh Raden Wijaya dengan suka cita, akan dimanfaatkan untuk membalas dendam kepada Raja Jayakatwang yang telah menghancurkan Kerajaan Singhasari dan membunuh Raja Kertanegara.
Baca juga: Koalisi Pasukan Mongol dan Majapahit Hancurkan Kerajaan Kediri
Raden Wijaya dengan didampingi oleh Aryawiraraja, penguasa Sumenep lalu menemui Jenderal Ike Mese. Mereka menyakinkan Jenderal Ike Mese akan ikut berperang. Raden Wijaya menawarkan bantuan dengan iming-iming harta rampasan perang dan putri-putri Jawa yang cantik.