JAKARTA - Sabdo Palon dan Naya Genggong adalah tokoh legendaris yang dianggap sebagai pandita dan penasehat Raja Brawijaya V, penguasa terakhir yang beragama Buddha dari kerajaan Majapahit.
Untuk diketahui, Sabdo Palon dan Naya Genggong bukanlah nama asli, tetapi gelar yang diberikan sesuai dengan karakter tugas yang diemban. Dalam Serat Darmo Gandul, Sabda Palon diartikan sebagai kata-kata dari namanya.
Sabdo Palon memiliki dua makna, “sabdo” berarti seseorang yang memberikan masukan atau ajaran, dan “palon” yang berarti pengancing atau pengunci kebenaran yang bergema dalam ruang semesta.
Sementara Naya Genggong memiliki makna “naya” berarti nayaka atau abdi raja dan “genggong” yang bermakna mengulang-ulang suara. Naya Genggong adalah seorang abdi yang berani mengingatkan raja secara berulang-ulang tentang kebenaran.
Disebutkan dalam buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit, saat itu situasi dan kondisi Kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan dalam bidang moral karena banyak sekali pejabat kerajaan dan putra pembesar Majapahit diketahui telah banyak mengumbar hawa nafsunya.
Semuanya termenung dalam kesedihan dan keprihatinan. Mereka berdua nampak memeras otak bagaimana cara menyelesaikan masalah yang dihadapi Majapahit.