JAKARTA - Naiknya Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) menuai keraguan. Ken Conboy menuturkan, Leonardus Benyamin "Benny" Moerdani. yang lama menjabat Komandan Batalion I memiliki pengikut setia di kalangan perwira RPKAD.
(Baca juga: Ajaib! Jenderal Kopassus Ini Selamat Usai Ditembak Bazoka di Pondok Gede)
Dikutip dari buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, kelompok pengikut setia Benny, menganggap Sarwo mengambil keuntungan dari perseteruan antara Benny dan Kolonel Mung Parhadimulyo.
Sebelumnya, terjadi konflik antara Benny dan Mung yang diduga mencuat gara-gara urusan uang. Ujung dari konflik tersebut Benny ditendang dari RPKAD. Sedangkan Mung dimutasi menjadi Panglima Daerah Militer di Kalimantan Timur. Dan, Sarwo Edhie Wibowo dilantik sebagai Komandan RPKAD yang baru.
Beberapa yang menilai, naiknya Sarwo tidak lebih karena kedekatannya dengan Ahmad Yani, padahal dia tidak memiliki kompetensi atau kemampuan menjadi komando.
(Baca juga: Tak Ada Nama Soeharto, Ini Isi Lengkap Keppres Serangan Umum 1 Maret)
Ada aturan tidak tertulis di Resimen, seorang Komandan RPKAD harus berasal dari kalangan perwira yang berlatih komando di Batujajar, Jawa Barat, atau pelatihan setara di luar negeri.
Pendidikan yang pernah dijalani Sarwo pada 1963 bukanlah sekolah komando. Dia adalah siswa pendidikan staf militer di Australia.
Kemampuan Sarwo diragukan, bahkan seorang perwira RPKAD berharap Jenderal Yani dapat mengangkat orang lain yang lebih kompeten menjadi komandan.