Akan tetapi, pasar energi terbesar Rusia hingga saat ini masih Uni Eropa. Rusia memasok 40% keperluan gas dan 26% keperluan minyak Uni Eropa.
Data terkini Badan Energi Internasional (IEA) memperlihatkan bahwa tahun lalu China hanya membeli 20% dari seluruh ekspor minyak Rusia, sedangkan mayoritasnya mengalir ke Eropa.
"Ekspor minyak dan gas Rusia [ke China] telah meningkat lebih dari 9% setiap tahun selama lima tahun terakhir. Pertumbuhan ini tergolong cepat, meski demikian China hanya setengah dari besaran pasar Uni Eropa untuk minyak Rusia," kata Dr Harding.
Jerman, tujuan utama ekspor gas alam Rusia, baru-baru ini mengumumkan bakal menunda proyek perpipaan gas Nord Stream 2 guna merespons invasi Rusia ke Ukraina.
Pasokan melalui jalur pipa baru yang disepakati antara Rusia dan China (the Power of Siberia 2) hanya memasok seperlima dari kapasitas pipa Nord Stream 2, menurut sebuah analisis.
Lagipula belum jelas kapan pipa gas baru dari Siberia bakal mengalirkan gas alam ke China. Bagaimana pun China boleh jadi ingin meningkatkan impor gas alam dari Rusia untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara demi mencapai target pemangkasan gas rumah kaca.
(Arief Setyadi )