JAKARTA - Tumenggung Wilatikta dan Raja Handayaningrat Adipati Pengging sangat setia kepada Sang Baginda Raja Majapahit.
Apalagi, Raja Handayaningrat adalah menantu Prabu Brawijaya V karena telah mengawini putri Baginda Raja yaitu Retno Pembayun.
Namun, tidak demikian dengan Prabu Girindra wardhana alias Dyah Suraprabawa Raja Kediri. Meski Kerajaan Kediri berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, namun Sang Prabu Girindrawardhana mulai berkhianat.
Awalnya, Prabu Girindrawardhana tak mau sowan kepada Prabu Brawijaya V di kutharaja Majapahit, Trowulan. Sowan diartikan sebagai menghadap kepada Sang Baginda Raja.
Lama-kelamaan, ia tak mau lagi mengirimkan upeti berupa hasil pertanian yang terbaik serta mas picis raja brana ke Majapahit. Bahkan, lebih gila lagi, Prabu Girindrawardhana benar-benar hendak melakukan tindakan makar alias mbalela (memberontak) terhadap kekuasaan Prabu Brawijaya V.
Baca juga: Sabda Palon dan Naya Genggong 'Melihat' Istana Majapahit Terbakar Habis dan Diterjang Badai Besar!
Untuk mewujudkan tekadnya itu, Prabu Girindrawardhana melakukan perekrutan prajurit besar-besaran dan mengadakan latihan perang secara maraton. Tentu, dalam hal ini Raja Kediri tersebut melaksanakannya secara sembunyi-sembunyi agar tak tercium prajurit Majapahit.
Baca juga: Saran Sabda Palon dan Naya Genggong Sikapi Ancaman Kehancuran Kerajaan Majapahit