“Namun, transfer nilai-nilai keislaman dari mbah yai (kakung) dan mbah nyai (putri) kepada ibu berjalan dengan baik terutama terkait keteladanan,” katanya.
Kecerdasan intelektual Neng Waroh -sapaan ibunda Gus Dur sewaktu muda- tampak ketika belajar bersama saudara-saudaranya. Dia lebih cepat bisa menyerap pelajaran dan memiliki kemampuan lebih karena kemauan serta rasa ingin tahunya. Semangat belajarnya tinggi, terbukti dengan ketekunan Neng Waroh dalam menuntut ilmu serta mengajarkannya kepada santri.
Pengalaman mengajar santri, membuat Neng Waroh, berpengetahuan luas dan maju meski belum mengenal tulisan latin. Sifat kepemimpinannya sangat menonjol sejak kecil. Layaknya seorang manajer, dia memiliki banyak gagasan dan seringkali mengatur saudara-saudaranya untuk bertugas melakukan pekerjaan. Begitu pula kepada teman-temannya serta santri di pesantren.
Baca juga: Humor Gus Dur: Gaji Presiden yang Diberikan kepada Menterinya, Kok Begitu?
Selain punya jiwa kepemimpinan, keberaniannya juga tampak sejak kecil. Terbukti, Seringkali dia turut serta melihat prosesi pemakaman orang-orang Tionghoa yang meninggal. Hal yang tak lazim dilakukan anak perempuan seusianya pada masa itu. Tak hanya sekadar melihat, bahkan Neng Waroh juga mengambil makanan-makanan yang dibawa para pengiring jenazah yang biasa ditinggalkan di area makam Bong Cino.
Sebenarnya, kedua orangtua Neng Waroh sudah mewanti-wanti agar dia tidak keluar sendirian tanpa seizin Kiai Bisri maupun Nyai Chadijah. Selain itu juga harus ditemani saudara laki-lakinya. Namun larangan itu kerap dilanggar jika memang dirasa dia punya keperluan penting dan merasa tidak ada bahaya yang mengancam.
Baca juga: Humor Gus Dur: Berfikir Keras Mengurai Singkatan Orang Madura, Apa Itu?
Melihat "kenakalan" putrinya, tak lantas membuat Kiai Bisri marah dan langsung menegurnya di depan umum. Sebagai ayah yang bijak, Kiai Bisri menasihati Neng Waroh seorang diri agar sang putri tak merasa malu dan minder.