Abdul Wahid, Kakek Buyut Gus Dur yang Merupakan Komandan Pasukan Pangeran Diponegoro

Tim Okezone, Jurnalis
Senin 11 April 2022 07:02 WIB
Share :

Dari pernikahannya itu, pasangan Asy’ari dan Halimah dianugerahi 11 orang anak yaitu, Nafi’ah, Ahmad Saleh, Muhammad Hasyim, Radiah Hasan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi, dan Adnan. (Solichin Salam, 1963: 19) Putera Kiai Asy’ari yang ketiga, yaitu Muhammad Hasyim dilahirkan di Pondok Nggedang pada tanggal 24 Dzulqa’dah 12 bertepatan 14 Februari 1871. Muhammad Hasyim kemudian lebih dikenal dengan nama KH Hasyim Asy’ari.

Lima tahun setelah Muhammad Hasyim lahir, atau pada tahun 1876, Kiai Asy’ari yang lahir pada tahun 1830 ini mendirikan Pondok Pesantren di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang. Lewat pesantren yang didirikannya itu, Kiai Asy’ari dikenal sebagai perintis tradisi keilmuan pesantren di daerah Jombang.

Adapun Pesantren Nggedang berkembang menjadi Pesantren Tambakberas, Jombang, di bawah kepengasuhan saudara misan (sepupu) Kiai Asy’ari yaitu Kiai Said, yang kemudian menurunkan Kiai Chasbullah, ayahanda KH Abdul Wahab Chasbullah. Menurut salah seorang cucu KH Hasyim Asy’ari, KH M. Ishom Hadziq, ayah Kiai Asy’ari bernama Abdul Wahid bin Abdul Halim.

Abdul Wahid merupakan salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang menggunakan nama “Pangeran Gareng” di bawah Panglima Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Nasab Kiai Asy’ari merujuk hingga ke Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir alias Sultan Pajang. Jaka Tingkir bergelar Sultan Adiwijaya. Ia adalah nenek kedelapan dari KH Hasyim Asy’ari. Jaka Tingkir masih keturunan Raja Brawijaya VI yang dikenal dengan nama Lembupeteng.

Ia juga dipanggil dengan sapaan Mas Karebet. Menurut catatan Ahmad Baso (2016), Kiai Asy’ari wafat sekitar tahun 1890 dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Keras. Ketika KH Hasyim Asy’ari, menikah di tahun 1892 dengan Nyai Nafisah, putri KH Ya’qub bin Hamdani, Pengasuh Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, Kiai Asy’ari sudah tiada.

Pesantren Keras kemudian dikelola masing-masing oleh putera beliau, KH Saleh, dan menantu beliau, KH Alwi, yang dikenal ahli bela diri dan kanuragan. Di tahun 1930-an, Pesantren Keras kemudian diasuh oleh KH Basuni, lalu KH Salahuddin (di masa itu tidak ada lagi yang mondok di tahun 1970-an), kemudian KH Ahmad Labib di tahun 1990-an. Meski tidak sebesar Pesantren Tebuireng, Pesantren Keras mulai membuka madrasah dan berganti nama menjadi Pesantren Al-Asy’ari Keras.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya