Dapat dikatakan, mungkin ia lebih menyukai absennya seorang saudara laki-laki kandung, yang mungkin bakal bersaing memperebutkan perhatian sang ayah-yang kini mulai memanggilnya "pangeran kecil" dan semakin memperlakukan dirinya layaknya seorang anak laki-laki.
Di usia itu, yang dipedulikannya sama sekali bukan kecantikan, melainkan belajar dan belajar, dan belajar-sehingga sang ayah akan menanggapinya secara serius. la ingin sekali memahami, sesekali mempertanyakan, hal-hal yang dituturkan ayahandanya kepadanya dalam obrolan-obrolan privat mereka yang rutin itu.
Mencium gelagat sang putri yang haus pengetahuan dan perdebatan, Kertanagara menugasi Yang Dimuliakan Terenavindu, seorang karib dan resi Buddhis yang paling terpelajar, untuk menjadi guru paruh-waktu Gayatri.
(Angkasa Yudhistira)