BEKASI - Perjalanan mudik Lebaran identik dengan kemacetan. Bagaimana tidak, dalam waktu bersamaan, masyarakat berbondong-bondong pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga.
Meski harus terjebak macet, masyarakat tetap memilih untuk pulang kampung. Inilah yang dialami
Astri, pemudik tujuan Ciamis.
Saat ditemui MNC Portal Indonesia (MPI) di Terminal Induk Bekasi hari ini, Sabtu (30/4), Astri bersama kedua anaknya tengah duduk menunggu bus tujuan Ciamis datang.
Ia bercerita, momen mudik adalah hal yang nanti-nantikan sejak 2 tahun lalu. Pasalnya, sejak Covid-19 masuk ke Indonesia, dan pemerintah melarang mudik, Astri mengurungkan niatnya untuk pulang ke kampung halamannya.
Karena itu, saat pemerintah memperbolehkan mudik tahun ini, ia sangat senang. Ia tahu perjalanan mudik tahun ini pasti membeludak dan macet tak karuan. Namun, ia tidak peduli akan hal itu. Katanya, justru macet di saat mudik adalah sensasi yang dirindukan.
"Sudah dua tahun saya enggak mudik. Makanya pas tau pemerintah bolehin mudik, saya antusias banget. Udah pasti beludak sih pemudiknya dan jalanan pasti macet," ujarnya kepada MPI.
Ia mengaku, normalnya perjalanannya ke kampung halamannya hanya membutuhkan waktu sekira 7 jam. Namun, pada momen mudik seperti saat ini, waktu perjalanan bisa sampai 2 kali lipat. Meski begitu, ia menyebut, macet sebagai kenikmatan saat mudik.
"Ke Ciamis normal 7 jam. Sekarang pasti bisa 2x lipat. Tapi gapapa, nikmatnya mudik itu macetnya" ujar Astri.
Dari pantauan MPI, Astri membawa tiga barang bawaan, yaitu koper berisi baju, kardus besar isi oleh-oleh, dan tas jinjing berisi makanan ringan untuk buka puasa di bus.
Kata Astri, aneh jika dia tidak membawa oleh-oleh saat mudik. Hal itu lantaran membawa oleh-oleh merupakan tradisinya.
"Ini makanan, terus ada minyak, sirup, kue-kue kering. Apa saja saya bawa yang penting bawa oleh-oleh dari sini buat Ibu di kampung," ujarnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)