SOEKARNO di masa kanak-kanak dilahirkan di tengah kemiskinan. Ia juga dibesarkan dalam kondisi tersebut. Bahkan, dia tak memiliki sepatu dan juga kerap kesulitan air saat ingin mandi.
Bung Karno kecil juga tidak mengenal sendok dan garpu. Kehidupan yang kekurangan membuat hati kecil Bung Karno kala itu sangat sedih. Ayahnya yang bekerja hanya memiliki gaji pas-pasan dan harus tinggal di rumah kontrakan. Saat berumur 6 tahun, mereka pindah ke Mojokerto.
Keluarga Bung Karno tinggal di daerah yang warganya serba kekurangan. Meski, ada tetangganya sedikit lebih baik karena memiliki sisa uang sedikit untuk membeli pepaya atau jajanan lainnya. Namun, tidak bagi Bung Karno.
Lebaran adalah hari besar bagi umat Islam, hari penutup dari bulan puasa, bulan di mana para penganutnya menahan diri dari makan dan minum ataupun tidak melewatkan sesuatu melalui mulut mulai dari terbitnya matahari sampai ia terbenam lagi.
Kegembiraan di hari Lebaran sama dengan hari Natal. Hari untuk berpesta dan berfitrah. Akan tetapi Bung Karno dan keluarga tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah. Sebab, tidak punya uang untuk melakukan hal tersebut.
Di malam sebelum Lebaran sudah menjadi kebiasaan bagi kanak-kanak untuk main petasan. Semua anak-anak melakukannya, kecuali dirinya.