Alhasil beberapa orang kepercayaan Gajah Mada ikut menyelinap ke rombongan bersama sang juru gambar ini. Orang-orang kepercayaan Gajah Mada ini antara lain Gajah Enggon, pemimpin utusan khusus, Ma Panji Elam, menjabat sebagai Sang Arya Rajapakrama, Mpu Kapasa menjabat sebagai Arya Suradhiraja, Mpu Menur yang menjabat sebagai Sang Arya Patipati.
Di Sunda inilah para juru gambar ini melukiskan kecantikan wajah Dyah Pitaloka Citraresmi. Di sisi lain, para orang kepercayaan Gajah Mada ini menyampaikan maksud agar Sunda segera menyatakan tunduk pada Majapahit.
Sekembalinya Prabangkara ke Majapahit, ditunjukkanlah lukisan juru gambar ini kepada Hayam Wuruk. Alhasil ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap kecantikan Dyah Pitaloka Citraresmi hingga berniat menjadikannya sebagai permaisuri.
Baca juga: Setianya Istri Gajah Mada di Tengah Murkanya Pasukan Majapahit
Namun terdapat sumber lain yang mengatakan bahwa ketertarikan Hayam Wuruk terhadap Dyah Pitaloka Citraresmi dikarenakan beredarnya lukisan karya Sungging Prabangkara di Majapahit.
Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan pada Maharaja Linggabuana Wisesa untuk meminang Dyah Pitaloka Citraresmi, melalui perantara bernama Tuan Anepaken. Sesudah itu, rombongan yang dipimpin Madhu datang ke Sunda dengan membawa berbagai macam keperluan untuk meminang Dyah Pitaloka Citraresmi.
Baca juga: Mengenal 16 Pasukan Bhayangkara, Prajurit Elite Pengawal Raja Majapahit
Kepada Raja Sunda itu, Madhu membicarakan mengenai waktu dan tempat pesta pernikahan antara raja dan sang putri. Adapun pesta perkawinan bukan di Sunda, melainkan di ibu Kota Majapahit.
(Fakhrizal Fakhri )