Hal tersebut membuat Belanda resah hingga memindahkan Bung Karno dan ketiga rekannya ke Parapat. Bung Karno pun mendapat julukan sebagai Bapak Lambang Kemakmuran Rakyat di tanah Karo.
Bung Karno bersama pejuang nasional lainnya dibawa ke Parapat pada 1949. Di sana Bung Karno diletakkan di rumah bergaya arsitektur Eropa.
Rumah tersebut memiliki terowongan bawa tanah sejauh 3 kilometer yang pernah digunakan Belanda dalam berperang.
Pada 1938-1942, Bung Karno juga pernah diasingkan di Bengkulu. Rumah pengasingannya berada di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Bengkulu.
(Arief Setyadi )