"Kami sudah mengajukan usulan penyesuaian tarif, nampaknya sudah mulai ada respon tetapi belum diterapkan sampai hari ini, sehingga teman-teman ini merasa tidak sanggup lagi untuk beli BBM dengan harga yang begitu mahal dan antri yang begitu sulit, ada Pertamax dan Dexalite tetapi tidak sesuai. Kami minta pemerintah bisa memahami kondisi kami," katanya.
Sementara untuk kenaikan tarif, dikatakan Iwan usulan yang disampaikan berkisar dari 20 - 40 Persen dau harga saat ini. Namun diakuinya, pihak sopir angkot tetap mengacu pada tarif yang nantinya ditetapkan pemerintah.
"Artinya pemerintah kami harapkan faham dengan kondisi kami, sudah penumpang sepi, baru habis Covid-19 lagi, ditambah kondisi BBM yang mahal. Sehingga kami para sopir memilih tidak narik. Kami tidak membuat aksi apa-apa, hanya tidak narik," tutupnya.
(Nanda Aria)