JAKARTA - Suatu hari di pertengahan tahun 2016, Pranav Hivarekar, seorang peretas yang bekerja penuh, berusaha menemukan cacat dari fitur terbaru Facebook. Saat itu facebok baru meluncurkan fitur video.
Pranav mulai meretas sistem untuk mengetahui kelemahannya, kesalahan apapun yang dapat para penjahat gunakan untuk membobol jaringan perusahaan dan mencuri data.
BACA JUGA:Jadwal Lengkap Liga 1 2022-2023 Pekan Ke-1 Akhir Minggu Ini: Ada Bali United vs Persija Jakarta
Dan dia menemukan kode cacat yang dapat digunakan untuk menghapus semua video dari Facebook.
"Saya menemukan saya dapat mengeksploitasi kode dan bahkan menghapus video yang diunggah Mark Zuckerberg," kata Pranav, yang disebut ethical hacker atau peretas beretika dari kota Pune, India dikutip dari BBC, Selasa (19/7/2022).
Dia melaporkan kesalahan atau bug ini kepada Facebook melalui program 'bug bounty' atau hadiah bug.
Pemburu bug
Sejumlah peretas beretika sekarang berpenghasilan besar dan bisnis ini terus tumbuh.
Pemburu bug biasanya masih muda, dengan rentang usia 18-29 tahun. Banyak perusahaan besar yang memberikan bayaran tinggi kepada mereka untuk menemukan cacat pada kode internet sebelum diketahui kriminal internet.
Menemukan bug yang tidak pernah diketahui sebelumnya sangatlah jarang dan penemunya dapat diberikan hadiah ratusan ribu dolar atau miliaran rupiah.
Ini adalah insentif sangat besar bagi para peretas beretika elite atau "white hat".
BACA JUGA:Resmi, Alex Rins Berlabuh ke LCR Honda di MotoGP 2023
"Hadiah adalah satu-satunya pemasukan saya," kata Shivam Vashisht, peretas beretika dari India bagian utara yang berpenghasilan US$125.000 atau Rp1,7 miliar lebih tahun lalu.
"Saya meretas secara legal perusahaan terbesar dunia dan dibayar untuk itu, ini sesuatu yang menyenangkan dan menantang."
Ini adalah pekerjaan yang tidak mensyaratkan pendidikan resmi atau pengalaman untuk menjadi sukses. Shivam, seperti yang lainnya, mengatakan dia belajar lewat berbagai sumber di internet dan blog.
"Saya tidak tidur selama bermalam-malam untuk mempelajari peretasan dan proses penyerangan sistem. Saya bahkan meninggalkan bangku kuliah di universitas pada tahun kedua."
Dia sekarang menjadikan kegemarannya menemukan cacat pada kode perangkat lunak sebagai karir yang menghasilkan banyak uang, sama seperti peretas lain dari Amerika, Jesse Kinser.
BACA JUGA:Jangan Hanya Fokus Pinjam Dana, Masyarakat Wajib Cek Data Kredit
"Saya mulai tertarik pada peretasan saat di universitas, ketika saya mulai banyak meneliti peretasan telepon genggam dan forensik digital," dia menjelaskan lewat email.
"Dalam satu proyek saya mengidentifikasi cara memasukkan app jahat ke app store Android secara diam-diam."