TOKYO – Dalam konstitusi Jepang, yang ditulis setelah negara itu kalah pada 1945, disebutkan bahwa rakyat Jepang selamanya tidak akan berperang sebagai hak berdaulat bangsa. Tetapi, ancaman perang kini justru semakin mendekati negara itu.
Latihan militer skala besar China di sekitar Taiwan dalam beberapa hari ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa negara itu sedang merencanakan invasi ke Taiwan, yang diklaimnya sebagai bagian dari wilayahnya. Jepang mengatakan beberapa rudal China mendarat di laut yang merupakan bagian dari zona ekonomi eksklusifnya.
Di Hiroshima - setelah upacara bom atom - Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida mengatakan pemerintah harus menanggapi krisis di Taiwan dan Ukraina.
Baca juga: Peringatan 77 Tahun Bom Atom Hiroshima, PBB Peringatkan Kemanusiaan 'Bermain-main' dengan Nuklir
“Kami akan secara drastis memperkuat kemampuan pertahanan kami,” tegasnya, dikutip VOA.
Menurut Tetsuo Kotani, profesor Kajian Global di Meikai University, kebijakan Kishida semakin banyak menuai dukungan publik.
“Karena invasi Rusia ke Ukraina, persepsi masyarakat umum Jepang akan keamanan nasional berubah secara dramatis. Rakyat Jepang sangat khawatir akan agresi China. Dan menurut jajak pendapat publik, semakin banyak orang kini yang mendukung perubahan konstitusi dan juga peningkatan anggaran pertahanan. Jepang bahkan memasukkan kemampuan melancarkan serangan ofensif sebagai bagian dari kapabilitas militernya,” tukasnya.