Seusai menjalani pemeriksaan paspor dan dokumen-dokumen perjalanan, Dolly, keluarga Kobus, dan para suami mereka serta para penumpang lain, masuk kereta yang dikirim pemerintahan baru Indonesia ke Yogyakarta. Saat itu, Jakarta atau Batavia berada dalam kekuasaan Belanda.
Perjalanan kereta itu dikawal pasukan militer Belanda sampai ke garis demarkasi yang terletak di Kranji, Bekasi. Garis itu memisahkan wilayah kekuasaan Belanda dengan Republik Indonesia.
BACA JUGA:KIB Luncurkan Visi Misi, Adi Prayitno: Politik Gagasan, Bukan Politik Catwalk
Keberadaan para perempuan kulit putih amat mencolok di antara ratusan orang Indonesia yang berkulit sawo matang.
Di stasiun Kranji, seorang serdadu Belanda melihat Dolly dan Kobus bersaudara. "Dia melihat kami dan berkata, 'Ke sana?' Lalu dia menyilangkan jari di dahi. Dia pikir kami orang gila karena rombongan Belanda lain justru menuju Jakarta dan belum lama dibebaskan dari kamp tahanan Jepang," papar Dolly.
Di sepanjang perjalanan, penuh kegirangan ketiga Kobus muda menjulurkan kepala dari dalam kereta dan dari waktu ke waktu berseru kepada penduduk di sepanjang perjalanan kereta: "Merdeka! Merdeka!"
Menyerahkan Anaknya ke Soekarno
Setelah beberapa hari di Yogyakarta, mereka menghadiri acara penyambutan yang dihadiri Presiden Soekarno. Bersama Mien, kakak beradik Kobus berhasil menghampiri sang proklamator.
Mien bagaikan 'menyerahkan' ketiga anak perempuannya kepada Indonesia melalui presiden Soekarno, sang proklamator.
"Ketiga anak saya adalah satu-satunya harta yang saya miliki," ujar Mien, sang ibu, kepada Soekarno, sebagaimana dikenang Miny kepada Hilde Janssen, seperti dituangkan dalam buku Tanah Air Baru, Indonesia.
BACA JUGA:Pidato Kenegaraan Jokowi Akan Berlangsung Dua Sesi Hari Ini
Soekarno menepuk bahu Mien seraya berkata, "Jangan khawatir, ibu. Kami akan menjaga mereka."
Pengalaman ini juga disinggung Dolly saat diwawancara BBC.
"Ibu mereka yang langsung menemui Soekarno dan menitipkan anak-anaknya. Itu dukungan dia kepada Indonesia."
Di sela-sela acara, seorang staf menteri sosial berkata kepada Miny bahwa bantuan mereka dibutuhkan di Jember, Jawa Timur. Di kota itu Palang Merah Indonesia mendirikan sejumlah tempat penampungan bagi warga Surabaya yang mengungsi setelah kota tersebut direbut pasukan Inggris dan diserahkan ke Belanda.
Beberapa hari kemudian Kobus bersaudara berangkat ke Jember. Di sana, Miny dan Annie bekerja untuk Palang Merah Indonesia. Adapun Dolly menetap bersama suaminya di Solo.
Toto, anak bungsu Miny, mengungkapkannya lagi.
"Ibu saya aktif ikut dalam perjuangan waktu Indonesia clash dengan Belanda sebagai anggota Palang Merah Indonesia," kata Toto yang mendapat kisah itu dari ibunya Miny.
(Nanda Aria)