3. Laksamana Malahayati
Menjadi laksamana perempuan pertama di dunia, Laksamana Hayati berada di garis depan dalam memimpin Laskar Inong Balee di medan perang. Selain itu, ia juga menduduki jabatan tinggi dalam Angkatan Laut Kerajaan Aceh yang turut bertempur melawan pasukan Portugis. Atas perjuangannya tersebut, nama Malahayati diabadikan di berbagai tempat,seperti jalan, universitas, dan pelabuhan.
Tahun 2021 lalu, nama Laksamana Malahayati diabadikan sebagai nama dari salah satu jalan di Ibu kota, tepatnya di daerah Jakarta Timur. Penetapan nama Jalan Laksamana Malahayati disahkan melalui Keputusan Gubernur No. 1242 Tahun 2021 tentang Penetapan Nama Jalan Laksamana Malahayati menggantikan Nama Jalan Inspeksi Kalimalang Sisi Sebelah Utara.
BACA JUGA:HUT Ke-77 RI, Mirdasy: Kita Ingin Perindo Turut Serta dalam Pembangunan Bangsa
4. Panglima Polim
Bernama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud, Panglima Polim bersama Teuku Umar bersama-sama melawan kependudukan Belanda. Dia juga pernah terlibat dalam sebuah pertempuran di Seulimeum, namun perang itu berbuah kekalahan. Kemudian, ia bersekutu dengan Sultan Aceh Daud Syah untuk bersama-sama melawan Belanda. Perjuangannya terus berlanjut hingga Sultan Aceh tersebut ditangkap dan diasingkan Belanda. Hal itu ternyata mempengaruhi Panglima Polim sehingga ia terpaksa menyerahkan diri dan ditahan hingga akhir hayatnya.
Perjuangannya dalam melawan Belanda membuat nama Panglima Polim terus dikenang. Sebuah jalan di Ibu Kota menjadi salah satu bentuk penghargaan atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan. Jalan tersebut bernama Jalan Panglima Polim yang terletak di Jakarta Selatan.
BACA JUGA:Upacara HUT RI di Rote Ndao, Mendagri Tito Ingatkan Generasi Muda Sejarah Kemerdekaan
5. Teuku Umar
Dikenal sebagai pejuang yang cerdik dan cerdas, Teuku Umar berpura-pura berpihak kepada Belanda untuk bisa mengambil keuntungan dari para penjajah tersebut. Setelah mendapat keuntungan berupa persenjataan dan tentara, dia bersama Panglima Polim bersama-sama menyatukan kekuatan untuk dapat mengusir para kolonial dari Tanah Aceh. Teuku Umar diburu oleh pasukan Belanda dan tertembak mati perang di Meulaboh.
Di tahun 1973, namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden Nomor 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973. Selain itu, nama Teuku Umar juga diabadikan di sejumlah tempat, termasuk dalam sebuah jalan di Jakarta yang diberi nama Jalan Teuku Umar. Jalan tersebut berada di daerah Menteng, Jakarta Pusat.
(Nanda Aria)