Pahlawan Revolusi
1.Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution
Abdul Haris Nasution adalah 1 dari 3 Jenderal di Indonesia yang mendapat pangkat sebagai Jenderal Besar, selain Soedirman dan Soeharto. Nasution merupakan putra asli Sumatera Utara yang lahir pada 3 Desember 1918 dan wafat dalam usia 81 tahun di Jakarta. Ia resmi dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 6 November 2002.
Tokoh TNI AD ini menjadi salah satu target penculikan gerakan pemberontak pada peristiwa 30 September 1965. Saat pasukan Cakrabirawa merangsek masuk ke rumahnya di Menteng, Nasution berhasil melarikan diri dan lolos dari penangkapan. Sayang, putri bungsunya, Ade Irma, ditembak pasukan tersebut hingga ia tewas beberapa hari usai kejadian.
2.Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani
Peristiwa di akhir September 1965 itu menewaskan Ahmad Yani. Jasadnya lalu dibawa ke Lubang Buaya dan dimasukkan ke sumur bersama jasad perwira lainnya. Ahmad Yani merupakan seorang perwira tinggi TNI AD yang terkenal sangat cerdas. Saat kejadian, ia menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat sejak 23 Juni 1962. Di masa pendudukan Jepang, Yani pernah menerima katana spesial yang biasa digunakan militer Jepang. Hal itu diterima Yani lantaran dirinya dipandang sebagai prajurit berkompetensi tinggi. Ia dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 5 Oktober 1965.