Kisah Heroik Jenderal Baret Merah saat Kopassus dengan Marinir Saling Bertempur

Solichan Arif, Jurnalis
Jum'at 26 Agustus 2022 13:25 WIB
Benny Moerdani dan Bung Karno/ Foto: repro
Share :

JAKARTA - Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno atau Bung Karno, ketegangan antar pasukan pernah terjadi di tubuh ABRI (sekarang TNI). Pada pertengahan tahun 1964, antara pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD (sekarang Kopassus) dengan pasukan Tjakrabirawa atau Cakrabirawa dari unsur KKO (sekarang Marinir), saling berhadap-hadapan.

(Baca juga: Mantan Dandim Tewas Dibunuh, Eks Kolonel Kopassus Turun Tangan)

Gesekan yang berujung dengan baku hantam massal di lapangan Banteng itu, dipicu aksi saling ejek. “Tanpa jelas yang menjadi penyebabnya, mendadak saja terjadi insiden. Dimulai dengan saling ejek-mengejek, kemudian berlanjut menjadi perkelahian massal,” kata Benny Moerdani atau LB Moerdani seperti dikutip dalam buku Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan (1993), Jumat (26/8/2022).

Adu fisik di lapangan Banteng pertengahan tahun 1964 itu membuat situasi semakin panas. Pasukan RPKAD yang merasa kalah jumlah dengan KKO Cakrabirawa yang asramanya di Kwini, yakni hanya berseberang jalan dengan lokasi kejadian, langsung berinisiatif mengontak rekan-rekannya di Cijantung. Dalam waktu cepat datang bantuan dengan iring-iringan truk.

Saling ejek yang berubah adu jotos ditengarai hanya akumulasi kecemburuan. Sebelum insiden terjadi, kehadiran Resimen Cakrabirawa yang dibentuk pada awal Mei 1963, sejak awal telah menimbulkan sentimen tersendiri bagi kesatuan lain, terutama RPKAD. Cakrabirawa merupakan kesatuan khusus yang bertugas menjaga keamanan Presiden Soekarno.

Dalam “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”, Maulwi Saelan mengatakan, gagasan pembentukan Cakrabirawa timbul paska insiden percobaan pembunuhan Bung Karno pada saat salat Idul Adha 1962 di Istana Negara.

Sebagai kesatuan khusus, Cakrabirawa memiliki kekuatan 3.000 personil yang semuanya berasal dari empat unsur angkatan (AD, AL, AU dan Kepolisian). Mereka merupakan kumpulan dari para tentara pilihan. “Mereka ini prajurit-prajurit para yang matang dan prajurit gerilya yang sempurna,” kata Bung Karno seperti dikutip dari Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.

Karena alasan khusus, pimpinan ABRI memperlakukan Cakrabirawa istimewa. Mulai plat nomor kendaraan dinas yang dipakai, hingga seragam personil Cakrabirawa dibuatkan berbeda dengan yang lain. Warna seragam pasukan Cakrabirawa juga tidak sama dengan kesatuan lainnya. Kendati demikian baret yang dipakai Cakrabirawa berwarna merah bata, nyaris mirip dengan baret merah kebanggaan pasukan RPKAD.

Menurut AKBP Mangil, Komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Cakrabirawa, saat pemakaian baret pertama kali dikenalkan, mereka masih meminjam baret RPKAD. Untuk membedakan dengan warna merah RPKAD, ditambahkan zat pewarna. “Warnanya bisa kami ubah dari merah menyala menjadi merah bata,” kata Mangil.

Pasukan RPKAD memakai baret dengan posisi miring ke kanan. Sedangkan Cakrabirawa miring ke arah kiri. Dalam perjalanannya, kemiripan warna baret antara pasukan komando (RPKAD) dengan pasukan istimewa (Cakrabirawa) kerap menyulut perselisihan. Para anggota RPKAD berpendapat, sebagai bukan pasukan komando, Cakrabirawa tidak pantas mengenakan baret merah.

“Sebaliknya, pasukan Cakrabirawa sebagai pengawal Presiden/Panglima Tertinggi, selalu merasa paling berjasa dalam mengamankan jalannya revolusi,” tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.

Saat pecah insiden RPKAD dan Cakrabirawa pada pertengahan 1964, Benny Moerdani baru saja menyelesaikan bermain tenis di lapangan Senayan. Benny Moerdani berpangkat Mayor Infanteri dengan jabatan sebagai Komandan Batalyon I RPKAD. Ia belum lama mendapat anugerah Bintang Sakti yang disematkan langsung oleh Presiden Soekarno.

Penghargaan Bintang Sakti diberikan kepada tentara yang telah berjasa dalam operasi pembebasan Irian Barat (sekarang Papua). Benny yang usai main tenis melihat di jalan masuk menuju asrama Cijantung penuh iring-iringan truk operasional RPKAD yang sarat penumpang. Semuanya anggota RPKAD berpakaian sipil.

Masih mengenakan baju olah raga, Benny diam-diam mencari tahu apa yang sedang terjadi. Iring-iringan truk RPKAD yang ia ikuti berhenti di jalan raya Kramat Raya. Para anggota yang berpakaian sipil itu berloncatan turun dari atas truk dan langsung berlari menuju arah simpang lima Senen. Mereka adalah anggota RPKAD yang dikontak rekan mereka yang berkelahi dengan Cakrabirawa di lapangan Banteng.

Situasi di sepanjang jalan sontak gaduh. Dengan berjalan kaki Benny menembus keramaian lalu lalang orang yang tengah berlarian. Ketika melihat seseorang tengah digotong masuk Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), ia langsung menuju ke sana.

Di rumah sakit, Benny mendapat keterangan apa yang terjadi dari seorang dokter yang juga bekas anak buahnya di Pasukan Naga. Diceritakan bahwa konflik diawali aksi saling ejek saat anggota KKO latihan baris berbaris dan pasukan RPKAD belajar mengemudikan mobil.

“Saya tengok ke dalam ruang perawatan. Kira-kira ada tiga anggota RPKAD dan sepuluh KKO ngglethak, terbaring berlumuran darah,” kata Benny Moerdani.

Benny langsung berfikir perselisihan harus segera dihentikan. Sebab jika tidak, akan semakin meluas. Dari RSPAD ia berjalan menuju asrama Kwini. Di pos jaga Kwini, terlihat puluhan anggota KKO berseragam Resimen Cakrabirawa dengan bersenjata lengkap. Mereka dalam posisi bersiap-siap mempertahankan asramanya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya