Sersan Kopassus Ini Nekat Todongkan Senjata ke Muka LB Moerdani, Endingnya Tak Terduga

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 26 Agustus 2022 17:15 WIB
Foto: kopassus.mil.id
Share :

JAKARTA – Sudah menjadi keharusan, jika anggota Kopassus memiliki kemampuan bertempur jarak jauh maupun dekat yang sangat mumpuni. Prajurit Baret Merah ini juga dikenal jago tempur dan berani menghadapi musuh di berbagai palagan.

(Baca juga: Kisah Heroik Jenderal Baret Merah saat Kopassus dengan Marinir Saling Bertempur)

Salah satu tokoh Kopassus yang melegenda sampai sekarang adalah Kolonel Inf. Agus Hernoto. Bahkan, karena keberaniannya Presiden Soeharto menganugerahi medali "Bintang Sakti" pada 1987. Sebuah penghargaan kepada mereka yang yang menunjukkan keberanian dan ketabahan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam pelaksanaan tugas operasi militer.

Penghargaan itu membuat Agus Hernoto menyamai jejak Jenderal TNI (Purn) LB Moerdani alias Benny Moerdani, tokoh militer Indonesia yang juga pernah meraih “Bintang Sakti” dari Presiden Soekarno.

Namun sebelumnya, ada peristiwa menegangkan antara keduanya. Saat itu, Agus Hernoto yang masih berpangkat sersan mayor nekat menodongkan senjata ke wajah Benny Moerdani yang berpangkat letnan.

Kendati demikian, senjata yang digenggam Agus Hernoto tidak sampai meletuskan timah panas sehingga nyawa Benny Moerdani selamat.

Melansir "Kolonel Inf. Agus Hernoto: Legenda Pasukan Komando dari Kopassus Sampai Operasi Khusus” insiden tersebut berawal ketika sebagian besar prajurit Kopassus kecewa dengan kepemimpinan Mayor Djaelani, Komandan RPKAD saat itu yang merencanakan penculikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel A.H Nasution.

Rencana penculikan terhadap orang nomor satu di Angkatan Darat itu dirancang oleh Panglima Tentara Teritorium I Kolonel Zulkifli Lubis. Kala itu, Lubis tidak puas dengan situasi nasional, isu kemudian berkembang menjadi soal kesejahteraan prajurit TNI. Perhatian pemerintah terhadap tentara dinilai rendah.

Lubis selanjutnya mengajak sejumlah perwira Divisi Siliwangi, di antaranya, Komandan Resimen Infanteri ke-9 di Cirebon Letnan Kolonel Kemal Idris, dan Komandan Resimen Infanteri ke-11 Mayor Soewarto di Tasikmalaya. Termasuk Komandan RPKAD Mayor Djaelani.

”Lubis mengajak saya dan Komandan RPKAD Djaelani untuk menyerbu Jakarta. Saya mengajak beberapa pasukan dibanu RPKAD dari Bandung. Tujuannya untuk mengganti KSAD yang dijabat oleh Nasution.

Sebelum rencana menyerang Jakarta saya hanya dua kali bertemu dengan Zulkifli Lubis dan Djaelani. Kami membicaran ketidakpuasan terhadap Pusdik Angkatan Darat yang saat itu dipimpin oleh Nasution. Kami mendambakan keadaan yang teratur dan normal hingga dapat mencapai suatu perkembangan,” kenang Kemal Idris, dikutip Jumat (26/8/2022).

Dalam rapat-rapat yang digelar diputuskan pasukan Siliwangi dan RPKAD akan bertemu di Kranji, Bekasi. Saat itu, Mayor Djaelani membawa peleton Kompi A di mana komandan kompinya adalah Benny Moerdani. Namun Benny tidak ikut karena sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit Cimahi.

Setibanya di Kranji, Djaelani tidak mendapati pasukan Divisi Siliwangi. Djaelani pun memutuskan untuk kembali ke Batujajar, Bandung. Kegagalan ini karena A.H Nasution telah mengetahui rencana penculikan dirinya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya