JAKARTA - Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie banyak dikagumi masyarakat baik di dalam maupun luar negeri. Banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari habitat-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita.
Berdasarkan data dari Arsip Nasional RI. Pria kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936 itu hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.
BACA JUGA:Pesan Terakhir Soeharto Buat BJ Habibie Menangis: Setiap Kali Sholat Saya Selalu Doakan Kamu Selamat
Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto.
Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.
BACA JUGA:Peristiwa 25 Juni: Kelahiran BJ Habibie hingga Kematian Raja Pop Dunia Michael Jackson
Diketahui, Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Ia menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini, dan dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.