Keluarga Pakoe Alam Yogyakarta memiliki andil besar. Empat putranya, ditambah saudara Pakoe Alam VI dan patihnya, belajar di Delft dan Leiden. Mereka di antaranya Notokworo, Notodiningrat, Gondowinoto, dan yang paling terkenal Noto Soeroto, yang selama 25 tahun memainkan peran penting di kalangan politik dan budaya orang Indonesia di Negeri Belanda.
Di Negeri Belanda mereka memiliki tempat berkumpul bersama. Termasuk membentuk perhimpunan untuk memandu orang-orang Indonesia yang baru tiba. “Rumah guru bahasa Jawa bagi para pangeran Solo yang bernama Sastropradoto di Leiden menjadi pusat pertemuan yang nyaman”.
Jumlah rombongan pemuda Indonesia yang belajar di Negeri Belanda memang terus bertambah. Namun seiring itu muncul kecemasan para orang tua, bahwa anak-anaknya terlalu diEropakan. Bukan sekedar soal keyakinan keagamaan. Begitu pulang ke kampung halaman, para orang tua melihat gejala sikap yang meremehkan lingkungan lama.
Di mata pribumi lainnya, prilaku mereka menjadi terlihat aneh yang diduga akibat masih tipisnya lapisan peradaban Eropa yang dipelajari. “Para pemuda itu lalu mulai membayangkan diri dalam segala hal lebih hebat dari lingkungannya yang lama. Dan sesuah kembali ke tanah airnya, mereka menjadi asing dengan lingkungannya,” tulis Dr A. A Fokker dalam Di Negeri Penjajah, Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950.
Menurut Fokker, masalah yang terjadi bisa diobati dengan memberi pengetahuan umum yang dasarnya adalah sikap nasional. Dengan begitu, dampak pergaulan akrab di lingkungan Belanda atau pembelandaan akibat hidup indekos pada keluarga Belanda, dapat dikurangi.
Fokker bahkan pernah mengemukakan gagasan pembangunan masjid untuk para mahasiswa di Negeri Belanda. Gagasan yang didukung sejumlah organ pers saat itu, sayangnya tidak terealisasi. Di sisi lain pemerintah kolonial Belanda sengaja mempropagandakan pentingnya belajar di Negeri Belanda.
Propaganda itu untuk mengimbangi pendidikan ke Istambul, Turki yang bisa diperoleh orang Indonesia secara gratis. Pada tahun 1907 tercatat ada sebanyak 24 orang yang belajar ke Istambul. Kolonial Belanda khawatir, sekembalinya pulang dari Istambul mereka dimungkinkan membawa serta gagasan-gagasan Islam yang berbahaya.
Dalam propagandanya, kolonial Belanda juga menyatakan, mereka yang menimba ilmu di Negeri Belanda ketika pulang akan langsung bekerja di pemerintahan. Hal itu di sisi lain membuat para orang tua yang mencemaskan perubahan prilaku anak-anaknya, menjadi tidak berdaya.
“Karena kenyataanya boleh dikata semua orang Indonesia yang kembali ke Indonesia (dari Belanda) ternyata bekerja di pada pemerintah,” demikian dikutip dari Di Negeri Penjajah, Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950.
(Awaludin)