Katakanlah Anda sedang mengalami hari yang buruk dan ingin berjalan-jalan tanpa diperhatikan di kota.
Ini bukan hal mudah, mengingat hanya ada jalan kecil untuk pejalan kaki di mana Anda bisa terus-terusan berpapasan dengan teman dan tetangga.
Cuek kepada mereka bukan pilihan, karena Anda bisa dianggap tidak sopan di budaya Venesia yang sangat ramah.
Pilihan lainnya? Berjalan dengan cepat, tundukkan kepala, dan ketika ada orang yang menyapa, jangan memperlambat laju.
Cukup lempar senyum sekilas sambil membuat gestur ciao, dan terus berjalan.
Bahkan saat orang bisa melihat bahwa Anda sedang mengalami hari yang buruk, mereka akan berpura-pura memahami Anda sedang terlambat menuju ke suatu tempat, dan semua orang menyelamatkan muka.
Untuk menghindari perhatian yang tak diinginkan, orang Venesia bahkan memiliki bahasanya sendiri, yang berfungsi sebagai tudung tak terlihat untuk melindungi ranah pribadi mereka.
Bahasa yang disebut Venexià ini kerap disebut sebagai dialek, namun banyak ahli bahasa yang menganggapnya sebagai bahasa tersendiri.
Dalam buku yang dirilis pada 1909, Italian Hours, penulis Henry James menyebut Venexià sebagai "bahasa ceriwis yang menyenangkan dan membantu membentuk kehidupan di Venesia selayaknya percakapan yang panjang."
"Bahasa ini, dengan peniadaan bunyi tertentu dalam pengucapannya, transposisinya yang aneh, dan ketidaksukaannya pada huruf konsonan, memiliki sesuatu yang sangat manusiawi dan akomodatif," tukas James.
Seabad kemudian, penjelasan James ini masih terasa masuk akal.
Jika Anda berjalan-jalan di lingkungan kelas pekerja di area Cannaregio dan Castello, Anda akan mendengar orang-orang saling mengobrol atau memanggil tetangga dari seberang kanal dengan tutur yang melantun.
Meskipun Anda tak mengerti satu patah kata pun, Anda akan mendengar apa yang disebut oleh para ahli bahasa sebagai "intonasi mendayu-dayu" yang berirama, suara yang kita pakai ketika kita bicara pada orang yang kita sayangi atau kepada anak kecil.
Saat Venesia semakin ramai oleh turis, bahasa Venexià telah berevolusi menjadi semacam bahasa "dalam kelompok", menurut Ronnie Ferguson, profesor bahasa Italia di Universitas Saint Andrew dan penulis buku A Linguistic History of Venice.
"Bahasa ini menjadi identitas dan sekaligus cara untuk mengecualikan orang dari luar Venesia," ujar Ferguson.
Masuk akal jika orang-orang Venesia ingin menjaga supaya bahasa mereka tetap eksklusif.
Venesia yang bersejarah hanya memiliki kurang dari 60.000 penduduk, namun menerima lebih dari 30 juta wisatawan setiap tahun.
(Nanda Aria)