Venesia yang Cantik dengan Lorong-Lorong Kota yang Mengusik Privasi

Tim Okezone, Jurnalis
Kamis 01 September 2022 07:02 WIB
Ilustrasi/ Doc: BBC
Share :

JAKARTA - Orang-orang Venesia memiliki kemampuan luar biasa untuk menghindar, menangkis, membaur, dan menghilang dalam sekejap mata.

Kota ini masih menyimpan budaya asli leluhurnya, peninggalan terakhir sebuah peradaban yang dulu pernah besar, dengan bahasa dan adat istiadatnya sendiri. Di balik kemegahan bangunan-bangunan era Gotik dan pahatan-pahatan menawannya, orang-orang Venesia ternyata menyukai kesederhanaan.

"Mereka cenderung lebih suka memakai pakaian dengan warna netral dan menghindari perhiasan yang berkilauan," ujar pendiri Venezia Autentica sebuah organisasi bisnis sosial yang fokus pada melestarikan budaya Venesia, Sebastian Fagarazzi, dilansir dari BBC, Rabu (31/8/2022).

Venesia dibangun oleh saudagar-saudagar yang menyimpan banyak rahasia. Mulai dari cara mendapatkan barang murah dan dijual dengan harga tinggi hingga rahasi penyimpanan harta benda mereka.

Geografi Venesia yang dibatasi air memperkuat nuansa rahasia itu.

"Film-film menggambarkan Venesia seperti labirin yang gelap, tempat sempurna untuk melakukan kejahatan," ujar Fagarazzi. "Tapi orang Venesia tahu, itu kebalikannya."

Tidak ada mobil atau truk berseliweran, jelasnya, untuk menyembunyikan percakapan rahasia.

Tidak ada hutan atau pedalaman untuk melarikan diri. Dan bahkan lorong-lorong tergelap di kota ini bisa jadi penuh dengan mata dan telinga tersembunyi.

"Kami tumbuh di kota ini dengan perasaan seperti ke mana pun kami pergi, selalu ada nonna yang mengawasi dari balik tirai," ujar Fagarazzi. Nonna berarti "nenek" dalam bahasa Italia.

Valeria Duflot, perempuan kelahiran Prancis yang juga pendiri Venezia Autentica dan kekasih Fagarazzi, merasakan sendiri pengalaman ini di awal-awal hubungan mereka.

Saat sedang berjalan-jalan sendirian menikmati Venesia, ia berpapasan dengan ayah Fagarazzi.

Mereka mengobrol selama beberapa menit, sebelum Duflot meneruskan jalan-jalannya.

Saat Duflot kembali ke rumah, ia menemui Fagarazzi sedang tertawa-tawa melihat telepon.

Seorang teman mengiriminya pesan, mengatakan Valeria terlihat berbincang dengan pria yang "mungkin" adalah ayah Sebastian.

"Kupikir kamu harus tahu," tulis sang teman.

"Bisa dibilang, gosip cepat menyebar di sini," kata Duflot.

Alasannya mudah dipahami. Berabad-abad lalu, warga Venesia bahkan mengenakan topeng saat melakukan kegiatan sehari-hari.

Ini adalah satu-satunya cara mendapatkan sedikit kebebasan di kota dengan sedikit privasi, dan orang sangat hati-hati menjaga reputasi mereka di depan publik. Ini masih berlaku hingga kini.

Topeng khas Venesia pertama kali disebutkan pada abad ke-13, dan pada abad ke-17 dan 18, para elite begitu sering memakainya sampai-sampai pemerintah harus mengeluarkan peraturan yang membatasi penggunaan topeng hingga maksimal tiga bulan dalam setahun, dari Natal hingga awal Prapaskah.

Penyamaran tradisional Venesia lain, yang dikenal dengan nama bauta, menyembunyikan bagian tubuh pemakainya lebih banyak daripada sekadar topeng biasa.

Pemakai bauta akan mengenakan topi lancip, dilengkapi dengan jubah panjang seperti tenda yang bisa menyembunyikan bentuk tubuh pemakainya.

Topeng yang menutupi seluruh wajah, termasuk hidung dan mulut, bahkan menyamarkan suara pemakainya.

Pembuat topeng saat ini masih memproduksi bauta. Memakai salah satu topeng itu lalu berkaca adalah pengalaman yang luar biasa.

Anda bisa melihat sendiri bagaimana jejak identitas Anda menghilang di depan mata.

Selain dipakai dalam perayaan Carnival yang terkenal di Venesia, memakai bauta di hari-hari ini justru akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.

Meski begitu, warga Venesia sendiri punya semacam bauta virtual yang memberi sinyal pada warga Venesia lain saat mereka ingin diabaikan.

Katakanlah Anda sedang mengalami hari yang buruk dan ingin berjalan-jalan tanpa diperhatikan di kota.

Ini bukan hal mudah, mengingat hanya ada jalan kecil untuk pejalan kaki di mana Anda bisa terus-terusan berpapasan dengan teman dan tetangga.

Cuek kepada mereka bukan pilihan, karena Anda bisa dianggap tidak sopan di budaya Venesia yang sangat ramah.

Pilihan lainnya? Berjalan dengan cepat, tundukkan kepala, dan ketika ada orang yang menyapa, jangan memperlambat laju.

Cukup lempar senyum sekilas sambil membuat gestur ciao, dan terus berjalan.

Bahkan saat orang bisa melihat bahwa Anda sedang mengalami hari yang buruk, mereka akan berpura-pura memahami Anda sedang terlambat menuju ke suatu tempat, dan semua orang menyelamatkan muka.

Untuk menghindari perhatian yang tak diinginkan, orang Venesia bahkan memiliki bahasanya sendiri, yang berfungsi sebagai tudung tak terlihat untuk melindungi ranah pribadi mereka.

Bahasa yang disebut Venexià ini kerap disebut sebagai dialek, namun banyak ahli bahasa yang menganggapnya sebagai bahasa tersendiri.

Dalam buku yang dirilis pada 1909, Italian Hours, penulis Henry James menyebut Venexià sebagai "bahasa ceriwis yang menyenangkan dan membantu membentuk kehidupan di Venesia selayaknya percakapan yang panjang."

"Bahasa ini, dengan peniadaan bunyi tertentu dalam pengucapannya, transposisinya yang aneh, dan ketidaksukaannya pada huruf konsonan, memiliki sesuatu yang sangat manusiawi dan akomodatif," tukas James.

Seabad kemudian, penjelasan James ini masih terasa masuk akal.

Jika Anda berjalan-jalan di lingkungan kelas pekerja di area Cannaregio dan Castello, Anda akan mendengar orang-orang saling mengobrol atau memanggil tetangga dari seberang kanal dengan tutur yang melantun.

Meskipun Anda tak mengerti satu patah kata pun, Anda akan mendengar apa yang disebut oleh para ahli bahasa sebagai "intonasi mendayu-dayu" yang berirama, suara yang kita pakai ketika kita bicara pada orang yang kita sayangi atau kepada anak kecil.

Saat Venesia semakin ramai oleh turis, bahasa Venexià telah berevolusi menjadi semacam bahasa "dalam kelompok", menurut Ronnie Ferguson, profesor bahasa Italia di Universitas Saint Andrew dan penulis buku A Linguistic History of Venice.

"Bahasa ini menjadi identitas dan sekaligus cara untuk mengecualikan orang dari luar Venesia," ujar Ferguson.

Masuk akal jika orang-orang Venesia ingin menjaga supaya bahasa mereka tetap eksklusif.

Venesia yang bersejarah hanya memiliki kurang dari 60.000 penduduk, namun menerima lebih dari 30 juta wisatawan setiap tahun.

(Nanda Aria)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya