JAKARTA - Setelah Habibie dan Ainun menjalani kisah asmara selama beberapa bulan. Akhirnya mereka mantap untuk melanjutnya pernikahan sebelum masa cuti Habibie habis dalam tiga bulan.
Seperti dikisahkan dalam buku Habibie & Ainun, keduanya telah siap untuk menghadapi segala tantangan di manapun mereka berada. Mereka berkeyakinan bahwa cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi, Allah SWT akan selalu mendampingi mereka dalam perjalanan membangun keluarga sakinah.
Sehingga akhirnya, mereka sepakat untuk bersama-sama menghabiskan sisa umur hingga maut memisahkan.
“Segala persiapan dan pelaksanaan akad nikah secara adat dan budaya Jawa hari Sabtu tanggal 12 Mei 1962 di Rangga Malela, diserahkan kepada keluarga Besari. Sedangkan resepsi dengan adat dan budaya Gorontalo, pada keesokan harinya tanggal 13 Mei 1962 di Hotel Preanger, diserahkan kepada keluarga Habibie,” dikutip dalam buku Habibie & Ainun.
Pertunangan akan dilaksanakan di rumah orang tua Ainun, di Jalan Rangga Malela. Pertunangan Habibie dan Ainun juga diumumkan di beberapa surat kabar harian daerah dan nasional.
“Bertunangan, Dokter Hasri Ainun Besari dengan Dipl.-Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie, April 1962 Bandung/Indonesia - Aachen/Jerman Barat," isi tulisan undangan pertunangan Habibie dan Ainun.
Beberapa hari setelah iklan pertunangan Ainun dengan saya diumumkan, kami mengalami suatu kejadian yang sangat menarik. Kejadian tersebut terjadi ketika Habibie sedang berjalan bersama Ainun menuju bagian anak di RSCM.