Lacak Tengah Malam
Pukul 23.00, kondisi masih hujan, telepon berdering. Nama Doni Monardo muncul di layar HP. “Waktu itu saya di Kantor Kodim setelah selesai mendampingi bu menteri. “Tri, kamu di mana. Saya di Jalan Nomor 5,” kata Doni. Ia menangkap sinyal perintah, untuk segera meluncur ke sana.
Mendekati titik pertemuan, ia melihat Doni Monardo berdiri di pinggir jalan dalam kegelapan, karena aliran listrik padam.
Malam itu saya ikut menemani Doni. Rombongan pun mengecek sebuah bangunan yang runtuh di dekat Doni berdiri. Di rumah itu, pagi hari tadi viral seorang anak tertimpa reruntuhan dan diberi minum oleh penolong. Sementara ibunya meninggal tak jauh darinya.
“Tri, di mana anak yang tadi pagi masih tertimbun di rumah ini,” tanya Doni.
“Siap, kebetulan tadi pagi yang bertugas di area ini teman-teman dari Paskhas TNI-AU. Menurut informasi, anak itu sudah berhasil dievakuasi,” jawab Tri.
“Yakin?”
“Yakin!”
“Kalau yakin, cari di mana sekarang. Saya mau ketemu. Tapi kalau ternyata masih ada, itu pembiaran namanya. Besok pagi saya mau ketemu dia,” kata Doni.
Dengan basah kuyup Doni dan Tri kembali ke tempat masing-masing.
Terus Mencari
Malam pertama Doni dan rombongan BNPB melantai istirahat di rumah dinas gubernur. Sementara Tri kembali ke markas Kodim. Ia masih harus menuntaskan tugas mencari keberadaan si anak kecil yang selamat dari reruntuhan tadi.
Hingga fisik letih dan mata lelap, kabar itu belum juga didapat. Pagi-pagi sekali, ia kembali ke lokasi reruntuhan rumah yang semalam ia datangi bersama Doni Monardo. “Jam tujuh saya harus lapor. Wah, gawat kalau belum dapat info,” kata Tri, mengenang.
Tuhan maha baik. Seorang lak-laki yang rupanya tetangga korban, sedang berada di situ, melihat dan mencoba mengambil barang-barang di reruntuhan rumah yang masih bisa diambil dan diselamatkan. Nah, bapak-bapak itu yang memberi nomor HP orang yang menolong korban.
Tri segera menghubungi nomor telepon itu dan menanyakan keberadaan si anak. Info pun didapat, bahwa anak itu sudah selamat dan saat ini sudah berada di RS Palu untuk mendapat perawatan. Jarak Mamuju ke Palu lebih 400 km, dan jika lewat jalan darat harus ditempuh dalam waktu sekitar 10 jam.
Tri pun melapor ke Doni. “Jadi saya tidak bisa bertemu dia?” Tri spontan menjawab, “Bisa komandan, pakai helikopter!” Dan Doni menutup telepon dengan kalimat, “Ya sudah, pastikan dia baik-baik saja. Itu artinya tidak ada pembiaran terhadap korban.”
Apakah tugas selesai? Oh, belum. Doni memerintahkan Tri Aji untuk menyiapkan stadion bagi penampungan pengungsi. “Tri, siapkan stadion untuk menampung pengungsi yang layak dikunjungi Presiden,” perintah Doni.
Sejak itu, Tri fokus menata Stadion Manakarra menjadi lokasi pengungsian yang representatif dan tertata dengan baik. Manajemen terkelola dengan baik. Tidak saja terbangun tenda-tenda yang memadai, tetapi juga dilengkapi fasilitas kesehatan, dapur umum, serta gudang logistik dan sarana lain.
Presiden Tiba
Tanggal 19 Januari, empat hari setelah gempa, Stadion Manakarra pun dikunjungi Presiden
Joko Widodo. Presiden mengapresiasi kerja keras penanganan gempa Mamuju. “Tanpa arahan, bimbingan, dan dukungan pak Doni, mungkin tidak akan secepat itu penanganannya. Kebetulan saya paham sekali kepemimpinan beliau,” ujarnya.
Lomba Militer, Ibarat Persiapan Perang
Tri Aji pun mengisahkan, saat-saat berada di bawah komando Doni. “Waktu itu saya Letnan Dua, baru selesai tugas operasi Timtim, dan langsung ditempatkan di Batalyon Singaraja. Saat saya masuk, masih komandan lama. Dua bulan kemudian, masuk pak Doni menjadi Danyon berpangkat letnan kolonel,” ujarnya.
Yang terkesan ketika itu, bagaimana Doni menggembleng kesamaptaan prajurit batalyon yang dipimpinnya. Ia bahkan membentuk Peleton Tangkas, di mana Tri Aji yang ditunjuk menjadi komandan peleton (Danton).
“Setiap hari kami digembleng fisik, lalu diarahkan untuk menciptakan rekor-rekor tertentu dalam cabang olahraga. Baik olahraga militer maupun cabang olahraga umum,” kenang Tri Aji.
Doni menginginkan prajuritnya bisa mengukir prestasi di Porad, Pekan Olahraga TNI Angkatan Darat yang mempertandingkan cabang-cabang olahraga militer dan cabang-cabang olahraga umum.
“Sebelum ikut Porad, batalyon kami nyaris tidak ada yang kenal. Tapi setelah kami keluar sebagai Juara IV, barulah batalyon Singaraja mulai dilihat orang,” ujar Tri Aji bangga.
Betapa tidak, di event Porad, atlet-atlet Batalyon Singaraja harus bertanding dengan atlet-atlet prajurit dari kesatuan lain yang sudah kesohor.
“Juara 1 Kopassus. Ya, itu kesatuan lama pak Doni kan? Pantaslah. Kemudian juara 2 Kostrad Cilodong, juara 3 Kodam Jaya, dan juara 4 batalyon Singaraja. Wah kami bangga sekali bisa berprestasi di tingkat nasional,” katanya.
Tri bahkan yakin, jika waktu latihan lebih lama, bisa berprestasi lebih bagus. “Kami digembleng enam bulan. Dan saya kira semua prajurit yang pernah dipimpin beliau, pasti tahu, dalam menggembleng beliau tidak hanya memberi perintah, tetapi terlibat langsung. Ketika itu, beliau adalah sosok paling tangguh. Tidak ada prajurit lain yang mampu mengalahkan fisiknya,” puji Tri.
Kontingan terdiri atas 31 orang. Kesemuanya harus bisa dan siap diterjunkan di cabang mana pun. Baik olahrara militer, seperti lari lintas medan, renang militer, menembak, dan lain-lain. Olahraga umum seperti sepakbola, voli, tenis dan lain-lain. “Di cabang umum, saya masuk tim sepakbola,” ujar lulusan Akmil 1997 itu.
Seni Perang
Suatu ketika saya bertanya kepada Doni, mengapa ia begitu all out menyiapkan anggotanya untuk lomba olahraga, padahal mereka kan unsur militer, bukan atlit?
Menurut Doni, menyiapkan pasukan untuk ikut lomba olah raga militer adalah ibarat persiapan menuju medan perang perang.
"Ini semacam latihan mengukur kemampuan pasukan. Kita siapkan latihannya, makanannya, juga mentalnya. Jadi kegiatan lomba olah raga militer adalah juga persiapan berangkat bertempur, berangkat ke medan perang. Komandan Kompi, Komandan Batalyon wajib belajar mengatur strategi. Mengatur dan mengukur kekuatan anak buah. Ini sebuah seni," ungkap Doni.
Dalam pertandingan olah raga sipil, seorang atlit umumnya bertanding cukup dalam satu kecabangan. Namun dalam lomba olah raga di dunia militer, seorang atlit bisa ditugaskan bertanding beberapa cabang. "Misalnya seorang atlit militer bertanding di cabang lari, terus renang, sepak bola dan juga menembak. Satu orang ikut lomba di empat cabang," kata Doni memberi contoh.
Intinya, Doni menanamkan ruh slogan "lebih baik mandi keringat di dalam latihan daripada mandi darah dalam penugasan di medan tempur".