Bahkan Prasasti Mula Malurung menyatakan, bahwa Guning Bhaya dan Tohjaya, kemudian berturut-turut menggantikan Mahisa Wonga Teleng.
Sepeninggal Tohjaya yang berkuasa di Kediri, kedua kerajaan ini akhirnya berhasil disatukan oleh Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat sejak tanggal 19 September 1248.
Konon penyatuan kedua kerajaan ini dibantu oleh Mahisa Cempaka dan Ranggawuni yang dalam Pararaton ternyata sebagai Sang Pamegat di Ranu Kebayan yang mendorong usaha penyatuan Kediri dengan Tumapel.
Berkat sokongannya dan dukungan para pembesar lainnya di Kerajaan Kediri, Wisnuwardhana berhasil kembali menggabungkan Kediri dengan Tumapel yang telah dikuasai sepeninggal Anusapati pada 1248.
Selanjutnya, Sang Apanji Patipati mengabdi kepada Sri Kertanagara, yang sejak tahun 1254 menurut Nagarakretagama diangkat sebagai raja di daerah Kediri.
Nama Ranggawuni tidak pernah disebut pada Prasasti Maribong dan Prasasti Mula Malurung.
Pada kedua prasasti ini yang disebut ialah nama Seminingrat. Pada Prasasti Maribong jelas bahwa nama Jayawisnuwardhana adalah nama abhiseka.
Sang Mapanji Seminingrat jelas adalah nama garbhopati Jayawisnuwardhana.
Namun tidak diketahui penggubah Pararaton hingga memperoleh nama Ranggawuni.
Kebalikannya nama Seminingrat tidak pernah disebut dalam Pararaton.
Tetapi Pararaton menyajikan panjang lebar tentang persekutuan Ranggawuni dan Mahisa Campaka, putra Mahisa Wonga Teleng.