JAKARTA - Di balik kisah cinta Soekarno dan Fatmawati, ternyata keduanya pertama kali bertemu saat usia Fatmawati baru 15 tahun. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu hingga Soekarno dan Fatmawati bertemu kembali di Bengkulu.
Seperti yang diketahui, ketika Soekarno diasingkan ke Bengkulu dia jatuh hati kepada gadis cantik bernama Fatmawati. Dia merupakan anak dari Hasan Din selaku teman Soekarno.
Tumbuh dengan berlatar belakang dari keluarga yang religius. Tentu membuat Fatmawati diharuskan mempelajari agama Islam. Fatmawati juga dikenal sebagai orang yang menutup auratnya dan pandai mengaji.
Saat Fatmawati mulai bersekolah, Ayahnya beberapa kali memindahkannya di sekolah yang berbeda karena masalah keuangan. Kondisi ekonomi keluarga Fatmawati kala itu bisa dibilang kurang mampu hingga membuatnya putus sekolah.
Sejak kelas dua sekolah dasar, Fatmawati sudah pandai berjualan demi meringankan beban orang tuanya. Dia pernah berjualan ketoprak, kacang bawang, dan pecel saat usai pulang sekolah.
Namun, saat Fatmawati berusia 12 tahun sudah bisa dilepas di warung beras Ayahnya. Fatmawati mulai terbiasa mandiri, dia bersekolah sambil berjualan untuk membantu meringankan beban orang tuanya, menunggu warung, serta berobat sendiri ke rumah sakit.
Hal tersebut merupakan bukti semangat kemandirian serta rasa percaya diri yang matang dari sosok Fatmawati. Dengan usia yang masih terbilang muda, itu sangat mengagumkan.
"Tema (panggilan akrabnya) itu anak yang pemberani, sendiri aja berani pergi ke rumah sakit, tidak ada takut-takutnya sama dokter,” kata salah seorang dari anggota keluarga Ibunya dengan kagum.
Kemudian saat berusia 15 tahun, Fatmawati bertemu dengan Soekarno. Peristiwa itu terjadi ketika Hasan Din mengajak istrinya dan Fatmawati untuk bersilaturahmi dengan seorang tokoh pergerakan yang diasingkan ke Bengkulu, yaitu Soekarno. Bersama dengan rombongan adik kandung Hasan Din, mereka naik delman mengunjungi rumah Soekarno di Curup.
"Masih ku ingat, aku mengenakan baju kurung warna merah hati dan tutup kepala voile kuning di bordir,” tutup Fatmawati sambil mengenang.
(Khafid Mardiyansyah)