JAKARTA- Berikut kisah Long March pasukan Siliwangi yang terjadi tahun 1948 ketika Belanda jatuhkan Yogyakarta. Perjuangan Siliwangi diabadikan dalam sebuah film.
Pasukan Siliwangi yang terbentuk dalam Divisi Siliwangi menjadi garda depan tempur TNI wilayah pertahanan Provinsi Banten dan Jawa Barat. Divisi ini berdiri pada 20 Mei 1956 dan dikenal dengan Komando Daerah Militer III/Siliwangi.
Kisah Long March Siliwangi darah dan doa diwali jatuhnya serangan Agresi Militer Belanda menembaki Lapangan Udara Maguwo kemudian Yogyakarta menjadi sasaran selanjutnya.
Dalam buku" Long March Siliwangi" karya Himawan Soetanto diceritakan perjalanan panjang (long marc) tentara siliwangi ke kampung halamannya harus ditempuh dengan banyak pengorbanan. Bukan hanya kehilangan harta dan benda, darah dan nyawa harus dikorbankan.
Perjalanan pasukan penuh dengan bahaya dan rintangan tersebut terekam dalam ingatan Kolonel TB Simatupang. Dia tak sengaja ikut dalam Long March Siliwangi bersama Batalyon Daeng, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Daan Yahya.
Seperti halnya para pasukan, istri dan anak mereka juga ikut berjalan kaki menuju kantong gerilya. Mereka harus melalui jalan yang gelap gulita, menyeberangi sungai deras, mendaki bukit-bukit licin dan curam, termasuk menghadapi hewan-hewan liar dan buas.
Sepanjang 600 km, mereka berjalan kaki, menghadapi kelaparan, penyakit hingga serangan militer Belanda dan teror pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Dalam perjalanan, ada anak-anak dan perempuan tewas terbunuh oleh bom pesawat-pesawat Belanda.
Jenderal Soedirman memainkan peran kunci dalam situasi ini. Sebab Presiden Soekarno dan Moh.Hatta telah diculik dan dibuang ke Ende. Telah memperkirakan peristiwa ini akan terjadi, Jenderal Besar Soedirman memerintahkan pejuang Siliwangi untuk bergerak ke Jawa Barat membentuk perlawanan sampai membuat pulau Jawa menjadi persatuan gerilya yang besar.
Perjalanan dimulai dengan keringat dan darah. Pejuang Siliwangi harus menempuh perjalanan yang begitu luar biasa. Long March dari Jawa Tengah ke Jawa Barat itu dipimpin oleh Letnan Kolonel Siliwangi Daan Yahya pada tahun 1948. Mereka harus berjalan sejauh 600 km menelusuri hutan gelap, sungai dan tak jarang berhadapan dengan hewan buas.
Selama perjalanan, tidak banyak persediaan makanan dan alat bertahan hidup yang dibawa. Hingga mereka harus menahan lapar dan terus berjalan sampai tujuan. Bahkan dalam perjalanan anak, istri dan kerabat tak jarang menjadi korban dan akhirnya meninggal. Beberapa meninggal karena sakit, kelaparan dan terbunuh karena bom yang dilayangkan pesawat musuh.
Ketika itu sangat sulit untuk mencari bahan makanan apalagi pasukan harus memenuhi kebutuhan logistiknya sendiri. Naasnya pasukan ini tidak dapat diterima di wilayah operasi tujuan. Sampai akhirnya datanglah pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menawarkan untuk bergabung supaya pasukan Siliwangi dapat diterima kembali di Jawa Barat. Pasukan Siliwangi menolak dan tetap ingin mengabdi untuk kesatuan bangsa Indonesia.
Itulah informasi mengenai kisah Long March pasukan Siliwangi yang terjadi tahun 1948.
(RIN)
(Rani Hardjanti)