Para pemuda bersama gerilyawan dan tentara Indonesia juga mempunyai strategi lainnya, yaitu membakar bangunan strategis di Kota Malang. Dengan taktik bumi hangus ini, Belanda tentu tidak dapat memanfaatkan bangunan-bangunan di Malang untuk kepentingannya. Untuk menahan pasukan Belanda, taktik pertahanan pun dijalankan dengan menitikberatkan pada sektor timur, tengah, dan barat. Pasukan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) turut dikerahkan. Tak memiliki pengalaman berperang, pasukan pelajar tersebut kewalahan saat Belanda menyerang dan mengepung. Pada pertempuran tersebut, 35 anggota TRIP tewas. Belanda pun dapat menguasai Malang pada 31 Juli 1947.
Pendudukan Belanda di Malang berakhir setelah Perjanjian Renville pada 1948. Peristiwa Malang Bumi Hangus menjadi bukti nyata perjuangan pemuda Kota Malang guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
(Rahman Asmardika)