Pahlawan yang memiliki nama asli Gusti Zaleha ini sepeninggal sang ayah tetap meneruskan perjuangannya.
Di masa sulit, ia akhirnya memutuskan memeluk agama Islam bersama sahabatnya, Bulan Jihad.
Selama masa penjajahan, ia berhasil menghimpun beberapa suku Dayak untuk melawan Belanda.
Adapun suku yang berhasil dihimpun antara lain: Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, dan Bakumpai.
Meski seorang wanita, tak jarang Ratu Zaleha dan para pasukannya melewati pertempuran secara fisik yang sangat sengit.
Pernikahan Ratu Zaleha
Pada 1900, Ratu Zaleha dipersunting oleh Gusti Muhammad Arsyad. Bersama sang suami, keduanya terus melawan penjajahan Belanda.
Sayangnya, pasukan Gusti Muhammad Arsyad harus tunduk kepada Belanda, dan dalam kekalahan itu ia diasingkan.
Kendati demikian, Ratu Zaleha tak gentar, dan tetap berjuang meski tak bersama sang suami.
Setelah sang suami, Ratu Zaleha pun akhirnya dapat ditaklukan koloni Belanda. Pada 1904, keduanya diasingkan bersama ke Bogor, dan pada 1937 mereka diperbolehkan kembali ke Banjarmasin.
Pengasingan Ratu Zaleha dan suami menjadi bukti betapa takutnya Belanda dengan kekuatan pahlawan pasangan suami istri ini.
Saking takutnya, pemberontakan ini disebut kelompok paling bahaya di Kalimantan Selatan dan Tengah pada masanya.