Lebih lanjut ia menjelaskan, apabila di sungai Cikaso tersebut dibangun jembatan secara permanen. Maka, ia meyakini hal tersebut dapat membantu akses mobilitas warga dari tiga kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Sukabumi.
Alasannya, sungai Cikaso tersebut dapat mengubungkan Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran dengan Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya serta Desa Nangerang di Kecamatan Jampangtengah.
"Karena belum ada jembatan, maka warga dan siswa harus rela melintasi sungai Cikaso menggunakan rakit atau perahu yang terbuat dari anyaman bambu. Alhamdulillah, sih belum sampai ada laporan soal warga maupun siswa yang terbawa hanyut saat melintasi sungai itu. Meski demikian, kami tetap khawatir dan merasa sangat kasihan kepada warga, khususnya para siswa," tambah Bangbang.
Untuk bisa berangkat ke sekolah, belasan siswa jika musim kemarau mereka bisa menyusuri sungai dengan berjalan kaki sambil membuka sepatu dan menaikan celana atau rok sekolahnya. Namun, apabila memasuki musim hujan, maka mereka berangkat ke sekolah menggunakan rakit sambil diawasi orangtuanya.
"Namun, jika airnya meluap. Maka dapat dipastikan mereka lebih meliburkan sekolahnya. Iya, tidak ada yang berani mengantarkan anaknya untuk melintasi sungai itu, jika airnya sedang meluap. Karena, kalau dipaksakan rakitnya pasti kebawa banjir," ujar Bangbang.
Jika para siswa tetap berisi keras ingin belajar ke sekolah pada saat airnya meluap, maka mereka harus menggunakan akses lain dengan cara memutar dan memakan waktu 2,5 jam. Namun, jika naik rakit rata-rata warga harus bayar sebesar Rp5 ribu per orangn. Tetapi, bagi siswa hanya bayar seikhlasnya.
"Motor juga banyak yang nyebrang pakai rakit. Karena waktunya dekat. Kalau lewat Pabuaran itu harus melintasi 35 km. Tetapi kalau pakai rakit itu sedikit paling hanya butuh waktu 15 menit sudah sampai ke lokasi," ujar Bangbang.
Pihaknya menambahkan, pemerintah desa sudah berulang kali meminta bantuan kepada pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi hingga pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sejak 2018 lalu, ia mengaku sudah mengajukan bantuan untuk pembangunan jembatan permanen untuk melintasi sungai Cikaso melalui pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui program Jantung Desa.
Namun, hingga saat ini belum mendapatkan respon yang baik. Setelah itu, ia kembali meminta bantuan pada tahun 2020. Namun, pengajunan untuk pembangunan jembatan itu, anggarannya terkendala recofushing Covid-19.
"Terus kemarin sudah ada survai dari Yayasan Sehati, tetapi sama belum ada rejekinya. Harapan kami, ada secepatnya di bangun jembatan permanen untuk mempermudah layanan pendidikan, kesehatan, dan perekonomian warga kami," pungkasnya.
(Awaludin)