Temuan Komnas HAM soal Tragedi Kanjuruhan, dari Gas Air Mata hingga Jadwal Pertandingan

Riana Rizkia, Jurnalis
Kamis 13 Oktober 2022 05:40 WIB
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan investigasi tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Investigasi yang dilakukan berupa pemantauan dan penyelidikan sejak 2 Oktober.

Menurut Komisioner Komnas HAM Choirul Anam, untuk temuan awal ada beberapa poin. Namun, temuan bisa saja bertambah seiring dengan kondisi di lapangan.

BACA JUGA:Saling Lempar Tanggung Jawab di Tragedi Kanjuruhan, TGIPF: Biarlah Mereka Saling Perbaiki 

Temuan pertama, Komnas HAM mengaku memiliki dokumen terkait pengamanan sebelum pertandingan antara Arema vs Persebaya berlangsung.

"Ini temuan-temuan awal ya, dan ini masih bisa berkembang. Yang pertama adalah bahwa berdasarkan keterangan dan informasi mendalam ditemukan informasi terkait prakondisi dan rencana pengamanan," kata Anam, Rabu (12/10/2022).

 

"Jadi memang salah satu fokus Komnas HAM melihat berbagai kekerasan, jumlah korban yang begitu besar, kami melihat bagaimana rencana pengamanan dan prakondisi yang dilakukan untuk memastikan bahwa pertandingan tersebut aman, dan nyaman bagi suporter," imbuhnya.

BACA JUGA:Korban Tragedi Kanjuruhan: Ingatan Pertama yang Pulih hanya Gas Air Mata dan Teman yang Meninggal 

Kemudian, pada temuan kedua, yakni turunnya Aremania ke lapangan adalah bukan untuk memicu kerusuhan, melainkan memberi semangat kepada tim kesayangan mereka. Karena, kata Anam, situasi tersebut sudah menjadi kebiasaan usai pertandingan.

"Pascapeluit panjang tanda pertandingan selesai dibunyikan kondisi di Stadion Kanjuruhan Malang masih terkendali. Pemain Arema kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh Aremania, jadi memang ini ada tradisi begitu yang berada di Stadion Kanjuruhan Malang," katanya.

"Selanjutnya, pada saat pemain Arema menuju ruang ganti sejumlah Aremania menghampiri pemain dan memeluk pemain untuk tujuan memberikan semangat. Memang ada suporter yang masuk ke lapangan, tapi itu untuk memberikan semangat," sambungnya.

Temuan ketiga Komnas HAM, yakni semua pintu di Stadion Kanjuruhan usai pertandingan Arema Vs Persebaya pada 1 Oktober lalu terbuka, namun kecil.

"Nomor tiga, bahwa berdasarkan video dan keterangan yang diterima Komnas HAM RI ditemukan bahwa kondisi pintu tribun terbuka meski yang dibuka itu pintu kecil," katanya.

"Termasuk pintu tribun 10 11 12 13 14. Banyak di sosmed mengatakan pintunya tertutup. Kalau pintu yang kecil itu terbuka. Kami konfirmasi termasuk dari berbagai video yang tersebar di media yang dikasih caption pintunya tertutup padahal itu terbuka," sambungnya.

Selanjutnya, poin keempat adalah gas air mata yang ditembakkan 20 menit setelah pluit pertandingan selesai ditiup. Anam mengatakan, gas air mata ditembakkan pertama kali ke tribun selatan sekira pukul 22.08 WIB.

Komnas HAM pada temuan ke lima, gas air mata menjadi penyebab utama korban jiwa berjatuhan. Hal tersebut terlihat melalui berbagai temuan Komnas HAM terkait insiden tersebut. Termasuk bukti video krusial milik korban yang meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan.

"Ini menyebabkan kepanikan penonton dan muncul situasi di lapangan menjadi ricuh," kata Anam.

Temuan keenam, PT Liga Indonesia Baru (LIB) menolak untuk mengubah jadwal pertandingan, dan mengurangi jumlah penonton.

Ditambahkan Anam, Ferli Hidayat saat menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Malang sempat mengirim surat rekomendasi agar jadwal pertandingan dimundurkan menjadi pukul 15.30 WIB. Namun, PT LIB tak mengindahkan rekomendasi tersebut, dan tetap menggelar pertandingan pukul 20.00 WIB.

Ferli Hidayat juga sempat meminta PT LIB untuk mengurangi penonton. Namun, tidak dituruti. Selanjutnya, pada poin ketujuh adalah jumlah penonton Arema vs Persebaya melebihi kapasitas Stadion Kanjuruhan.

Padahal, Stadion Kanjuruhan hanya dapat menampung sekitar 38.054 orang. Sementara, tiket yang sudah dipesan dan dicetak mencapai sekitar 43.000.

Pada temuan ke delapan yakni Komnas HAM menyebut memiliki video kunci yang memperlihatkan tragedi maut tersebut, dan belum pernah terpublikasi. Bahkan, kata Anam, video direkam oleh korban yang kemudian tewas.

"Ada satu (video) yang sangat krusial, yang sepanjang pengetahuan kami ini belum terpublikasi. Dan video ini memang, video yang diproduksi oleh yang meninggal," kata Anam.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya