JAKARTA - Dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, terdapat beberapa tokoh diplomasi ulung yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berikut daftarnya:
BACA JUGA: 4 Perjanjian Bersejarah Indonesia dengan Belanda, Salah Satunya KMB
1. Haji Agus Salim
Haji Agus Salim atau yang bernama asli Masyhudul Haq yang berarti 'pembela kebenaran' lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 8 Oktober 1884. Ia merupakan putra dari pasangan Muhammad Soetan Salim dan Siti Zainab. Agus Salim memulai pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) kemudian melanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia dan berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.
BACA JUGA: Haji Agus Salim Bersafari ke Negara Timur Tengah Menghimpun Dukungan Kedaulatan RI
Semasa hidupnya, ia mendalami ilmu agama Islam karena ingin membuat pendidikan Islam di Indonesia menjadi maju lagi. Ia juga tergabung dalam Sarekat Islam dan mendirikan Tabloid Neraca. Tidak hanya itu saja, Agus Salim menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung di pemerintahan Soekarno. Agus Salim juga mampu menguasai 7 bahasa asing, sehingga hal tersebut yang membuatnya menjadi diplomatik ulung Indonesia. Dirinya juga menjadi sosok terdepan yang ditugaskan untuk berdiplomasi ke berbagai negara tetangga untuk menjalin hubungan bilateral.
2. Ali Sastroamidjojo
Ali Sastroamidjojo lahir di Grabag, Jawa Tengah pada 21 Mei 1903. Ia merupakan seorang tokoh politik, pemerintahan, dan nasionalis. Ali mendapatkan gelar Meester in de Raechten (Sarjana Hukum) dari Universitas Leiden, Belanda pada 1927. Ali adalah Perdana Menteri Indonesia ke-8 yang sempat dua kali menjabat pada periode 1953-1955 Kabinet Ali Sastroamidjojo I dan periode 1956-1957 Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Selain itu, Ali juga menjabat sebagai Wakil Menteri Penerangan pada Kabinet Presidensial, Menteri Pengajaran pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II, serta Kabinet Hatta I, dan Wakil Ketua MPRS pada Kabinet Kerja III dan IV, Kabinet Dwikora I dan II.
Tidak hanya itu, Ali juga pernah menjabat sebagai wakil ketua delegasi Republik Indonesia dalam perundingan Konferensi Meja Bundar. Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, Ali diangkat menjadi Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko (1950-1955). Selain itu, Ali juga menjabat Ketua Umum Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955, wakil tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) periode 1957-1960, dan menjadi Ketua Umum PNI (1960-1966).
3. Mohamad Roem
Mohamad Roem adalah seorang diplomat ulung yang berasal dari Indonesia. Roem lahir pada 16 Mei 1908 di Parakan, Jawa Tengah. Sudah banyak perundingan yang telah dijalankan olehnya. Puncaknya adalah ketika Roem menjadi ketua pada perundingan Roem-Roijen yang membuat namanya semakin dikenal baik di Indonesia maupun Belanda.
Dirinya selalu dilibatkan dalam perundingan internasional, seperti pada perundingan dengan Van Roijen (17 Januari 1949) yang melahirkan kesepakatan Konferensi Meja Bundar (14 April 1949) yang ditandai sebagai era baru perjuangan Republik Indonesia). Selain menjadi seorang diplomat, Roem juga banyak memiliki peranan lain dalam pemerintahan, khususnya pada saat Orde Lama yang tercatat mulai dari 1945-1965. Ia aktif dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), pernah juga menjadi Ketua Muda Barisan Hizbullah Jakarta.
4. Mochtar Kusumaatmadja
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. (17 Februari 1929 – 6 Juni 2021) adalah seorang akademisi dan diplomat Indonesia. Mochtar pernah menjabat Menteri Kehakiman Kabinet Pembangunan III periode 1974-1978 dan Menteri Luar Negeri Kabinet Pembangunan IV periode 1978-1988.
Ia menjadi Wakil Indonesia pada Sidang PBB mengenai Hukum Laut, Jenewa, dan New York. Ia juga berperan dalam konsep Wawasan Nusantara, terutama dalam menetapkan batas laut teritorial, batas darat, dan batas landas kontinen Indonesia. Pada 1958-1961, Mochtar telah mewakil Indonesia pada Konferensi Hukum Laut, Jenewa, Colombo, dan Tokyo. Beberapa karya tulisnya juga telah mengilhami lahirnya Undang-Undang Landas Kontinen Indonesia pada 1970.
5. LN Palar
Lambertus Nicodemus Palar alias LN Palar adalah diplomat Indonesia yang berusaha merebut kemerdekaan Indonesia melalui jalur diplomasi. LN Palar memulai karier politiknya di luar negeri, khususnya di Belanda. Ia memilih kabur ke luar negeri karena kebijakan komunisnya yang tidak diterima di Indonesia.
Palar juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeider Partij (SDAP) pada 1930 dan di situ ia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada Sidang Dewan Keamanan PBB pada 1947, ia ditunjuk menjadi delegasi Indonesia dan juga pernah menjadi wakil RI pertama di PBB.
(Rahman Asmardika)