Serangkaian pal atau patok pada zaman Belanda terpasang dengan rapih di pinggiran jalan.
Tujuannya adalah untuk menunjukan ruas jalan yang telah dilalui.
Dengan kata lain, pal digunakan untuk pemandu bagi siapa saja yang memakai jalan tersebut dan juga sebagai penanda batas daerah.
Lantas, bagaimana kisah dari tempat-tempat bernama Palmerah, Palputih, Palbatu, dan Palmeriam?
1. Palmerah
Menurut kisah yang beredar, di masa lalu pemerintah Belanda memasang patok atau pal berwarna merah uuntuk dijadikan sebagai penanda batas wilayah Batavia dan Buitenzorg (Bogor).
Tak hanya itu, pal merah yang dipasang juga digunakan untuk jalur Gubernur Jenderal Batavia untuk berpergian dari Batavia ke Buitenzorg menggunakan kereta kuda.
Rombongan kereta yang digunakan Gubernur Jenderal Batavia yang melewati pal merah akan beristirahat untuk minum.
Kawasan yang digunakan untuk minum kuda tersebut kini dikenal dengan nama Pos Pengumben.
Meski patok merah tersebut kini sudah tidak ada, namun kawasan yang dulunya diberi patok berwarna merah kini disebut sebagai kawasan Palmerah yang berlokasi di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.
2. Palputih
Pal putih memiliki artian patok berwarna putih. Di zaman itu, pal putih juga digunakan sebagai penanda tempat oleh pemerintah Belanda.
Saat ini, kawasan dengan pal putih dikenal dengan kawasan Kramat Jaya, Jakarta Pusat, dan menjadi penanda halte busway.