Waduh, Ilmuan AS-Cina Suntikkan Sel Induk Manusia ke Dalam Emberio Kera

Awaludin, Jurnalis
Kamis 20 Oktober 2022 06:01 WIB
Illustrasi (foto: Okezone)
Share :

EMBERIO monyet yang mengandung sel manusia telah dikembangkan di laboratorium. Penelitian tersebut dilakukan oleh tim AS-Cina, dan telah memicu perdebatan baru tentang etika eksperimen semacam itu.

Para ilmuwan menyuntikkan sel induk manusia - sel yang memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi banyak jaringan tubuh yang berbeda - ke dalam embrio kera. Embrio yang sedang berkembang dipelajari hingga 20 hari.

Apa yang disebut embrio spesies campuran, atau chimera, telah diproduksi di masa lalu, dengan sel manusia ditanamkan ke embrio domba dan babi.

 BACA JUGA: Ilmuan Ekuador Temukan Spesies Baru Kodok yang Dinamakan Led Zeppelin

Tim ilmuwan tersebut dipimpin oleh Prof Juan Carlos Izpisua Belmonte dari Salk Institute di AS, yang pada 2017, membantu membuat hibrida manusia-babi pertama.

"Pekerjaan ini dapat membuka jalan dalam mengatasi kekurangan parah organ untuk transplantasi, serta membantu peneliti memahami lebih banyak tentang perkembangan awal manusia, perkembangan penyakit dan penuaan," katanya seperti dilansir dari BBC Indonesia.

"Pendekatan chimeric ini bisa sangat berguna untuk memajukan penelitian biomedis tidak hanya pada tahap paling awal kehidupan, tetapi juga tahap kehidupan saat ini," bebernya.

 BACA JUGA: Maksimalkan Riset di Kampus, Kemendikbudristek Buka Program Riset Keilmuan

Dia menegaskan, bahwa penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell, telah memenuhi pedoman etika dan hukum saat ini.

"Pada akhirnya, kami melakukan studi ini untuk memahami dan meningkatkan kesehatan manusia," katanya.

Beberapa ilmuwan, bagaimanapun, telah menyuarakan kekhawatiran tentang percobaan tersebut, meski embrio dalam penelitian ini dihancurkan pada 20 hari, pihak lain lain dapat mencoba untuk melanjutkan penelitian.

Mereka menyerukan debat publik tentang implikasi penciptaan setengah manusia / setengah chimera bukan manusia.

Mengomentari penelitian tersebut, Dr Anna Smajdor, dosen dan peneliti dalam etika biomedis di Fakultas Kedokteran Norwich, Universitas East Anglia, mengatakan hal itu menimbulkan "tantangan etika dan hukum yang signifikan".

Dia menambahkan: "Para ilmuwan di balik penelitian ini menyatakan bahwa embrio chimera ini menawarkan peluang baru karena 'kita tidak dapat melakukan jenis eksperimen tertentu pada manusia'. Tetapi apakah embrio ini adalah manusia atau bukan masih dipertanyakan."

Prof Julian Savulescu, direktur Oxford Uehiro Center for Practical Ethics dan co-director dari Wellcome Center for Ethics and Humanities, University of Oxford, mengatakan penelitian itu membuka kotak Pandora untuk chimera manusia-bukan manusia.

"Embrio-embrio ini dihancurkan pada 20 hari perkembangannya, tetapi hanya masalah waktu sebelum chimera manusia-non-manusia berhasil dikembangkan, mungkin sebagai sumber organ bagi manusia. Itu adalah salah satu tujuan jangka panjang dari penelitian ini," kata Julian.

Sarah Norcross, direktur Progress Educational Trust, mengatakan bahwa sementara kemajuan substansial sedang terjadi dalam penelitian embrio dan sel induk, yang dapat membawa manfaat yang sama substansial, terdapat kebutuhan yang jelas untuk diskusi dan debat publik tentang etika dan tantangan dalam pembuatan peraturan.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya