Meskipun menurut Paiman, kini beduk tersebut sudah jarang digunakan.
"Bedug itu kita cari yang paling besar, rumahnya kita bangun khusus dengan ornamen JIC, nyari kulitnya dari kerbau air di sulawesi, diameter 2,3 meter depan belakang," ujarnya.
Ditambahkan Paimun, beduk tersebut memiliki nilai tersendiri sebab terbuat dari kayu pohon jati dengan keunikan ukiran nama-nama pencetusnya yang berjumlah 18 orang.
"Tapi bagi kita yang paling heroik itu adalah, menaikan bedug itu ke atas, karena dari bawah, dari truk kita naikan ke atas itu luar biasa itu. Tinggi tangganya sudah sedemikian rupa, ditarik, digeser, kita kasih tepung, naiknya berat sekali," pungkasnya.
(Natalia Bulan)