JAKARTA - Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengatakan penyelenggaraan Muktamar ke-48 ditujukan sebagai acara yang berkemajuan dan berkeadaban.
Selain itu, Muhammadiyah berusaha agar Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ini menjadi ukhuwah bagi masyarakat dan organisasi-organisasi lainnya.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan agar Muktamar kali ini bersih. Dengan maksud bersih dari lingkungan, money politic, dan intrik-intrik.
“Maka Itu saya mengajak warga berserikatan untuk ke dalam memilih pimpinan gunakan pertimbangan yang rasional, gunakan pertimbangan yang penuh dengan tanggung jawab. Jangan ada iming-iming yang bersifat material dari salah satu calon pimpinan,” jelasnya.
Abdul Mu’ti juga melarang untuk menjelekkan dan menebar aib dari kesalahan orang lain. Hendaknya, harus senantiasa mengedepankan kesantunan, kearifan, dan kedewasaan.
“Dalam konteks tahun politik, warga berserikatan Muhammadiyah hendaknya mematuhi dan memahami konstitusi yang berlaku di negara kita karena sekarang ini mulai hangat persiapan Pemilihan Presiden 2024,” ujar Abdul Mu’ti.
Pilpres 2024 ini sudah memunculkan nama-nama bakal calon. Wewenang dalam mencalonkan itu ada di tangan partai politik. Undang-Undang Dasar menyebutkan bahwa presiden dan wakil presiden dicalonkan oleh partai politik.
“Karena itu Muktamar tidak perlu mengusung nama-nama orang sebagai bakal calon presiden atau wakil presiden karena itu bukan wewenang Muhammadiyah,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan kepada warga Muhammadiyah untuk menggunakan hak pilihnya sesuai dengan khittah dan kepribadian Muhammadiyah ketika sudah muncul nama para calon Pilpres 2024.
Hak pilih tersebut harus digunakan secara arif serta penuh tanggung jawab untuk kepentingan bangsa dan negara agar lebih baik lagi.
“Terakhir, warga Muhammadiyah hendaknya bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan bangsa Indonesia. Berusaha semaksimal mungkin agar bisa menjadi problem solver. jangan menjadi trouble maker dan problem maker,” lanjut Abdul Mu’ti.
(Khafid Mardiyansyah)