Peran KH Masjkur, Sahabat Bung Karno di Pertempuran Surabaya

Avirista Midaada, Jurnalis
Selasa 08 November 2022 08:41 WIB
Makam Kiai Masjkur (Foto : MPI)
Share :

MALANG - Perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada pertempuran Surabaya tak bisa dilepaskan dari pasukan Laskar Hizbullah dari Malang. Pasukan ini merupakan satu dari sekian pasukan Hizbullah yang turut berjuang di seluruh Indonesia pasca kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Perannya memang tak sementereng Tentara Berani Mati bentukan Bung Tomo, yang menjadi tokoh utama Pertempuran Surabaya. Tetapi kekuatan Bung Tomo dan pasukannya dipastikan tak akan kokoh jika tak disokong oleh para tentara dan laskar - laskar lain seperti Hizbullah, Sabilillah, yang mayoritas beranggotakan kiai, tokoh agama, dan santri di Jawa Timur.

Laskar Hizbullah tercatat sebagai pasukan bentukan tentara PETA yang merupakan pasukan Jepang. Laskar Hizbullah merupakan tentara cadangan yang disiapkan Jepang untuk menghadapi peperangan setahun menjelang Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

Pemerhati sejarah Malang Agung H. Buana menyatakan, di Malang pasukan Hizbullah tak bisa dilepaskan dari peran KH. Masjkur dari Pondok Pesantren (Ponpes) Bungkuk Singosari. Ia merupakan salah satu tokoh agama yang turut dilatih di Cibarusah, yang sekarang masuk Bekasi saat pembentukan tentara Hizbullah oleh militer Jepang.

"Mereka yang berlatih kemudian diminta kembali ke daerah masing-masing, untuk membentuk laskar Hizbullah di daerahnya. Salah satu pimpinan Hizbullah ini adalah Kiai Haji Masjkur yang ada di Singosari," ucap Agung H. Buana ditemui MPI.

Di Ponpes Bungkuk itulah KH. Masjkur mulai menghimpun kekuatan dengan beranggotakan tokoh agama dan para santri. Mayoritas anggota Laskar Hizbullah adalah santri - santrinya. Sosok KH. Masjkur dan keluarga juga menjadi tokoh penting dibalik tambahan pasukan dari Malang raya dan sekitarnya untuk Pertempuran Surabaya sejak awal November 1945.

"Keluarga KH. Masjkur banyak merelakan waktu, harta, dan tenaga, untuk menyiapkan pasukan. Mulai dari perhiasan, harta benda, itu dijual untuk nyangoni (memberikan uang) pasukan ini. Jadi pasukan ini disangoni sama pengasuh pondok bungkuk tadi, sama keluarganya KH. Masjkur tadi," terangnya.

Agung menambahkan, KH. Masjkur ini memang sahabatnya Bung Karno, bahkan karena kedekatannya dengan tokoh proklamator kemerdekaan Republik Indonesia ini ia ditunjuk sebagai menteri agama di tahun 1947 - 1949 dan 1953 - 1955.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya