Tiku bersembunyi di bentengnya di Buntu Batu. Ia mengirim pasukan untuk memata-matai Belanda di Rantepao. Pada 22 Juni, pasukannya melaporkan bahwa pada malam sebelumnya, sebuah batalyon Belanda, sekitar 250 ribu pria dan 500 pengangkut berangkat ke desa tersebut. Tiku kemudian memerintahkan agar jalanan segera disabotase.
Karena kampanye melawan Tiku berlangsung lebih lama daripada sebagian besar kampanye pendudukan lainnya, hal ini dianggap melemahkan otoritas Belanda di Sulawesi. Gubernur Jenderal JB van Heutsz mengirim Gubernur Sulawesi Swart untuk memimpin serangan secara pribadi dan mengadakan gencatan senjata.
Setelah tiga hari gencatan senjata, pada malam 30 Oktober pasukan Belanda mengambil alih benteng, mengambil semua senjata, dan menangkap Tiku. Dia dan tentaranya terpaksa kabur ke Tondon.
Akhir Hidup
Malam sebelum pemakaman ibunya, pada Januari 1907, Tiku dan 300 pengikutnya melarikan diri dari Tondon, menuju selatan. Setelah dia diberitahu bahwa Belanda telah mengejarnya, Tiku memerintahkan sebagian besar pengikutnya untuk kembali ke Tondon. Sementara dia dan sekelompok lima belas orang, termasuk dua istrinya, terus ke selatan.
Mereka memutuskan untuk menetap di Ambeso, tetapi benteng itu jatuh beberapa hari kemudian dan melanjutkan mengungsi ke Alla. Benteng Alla pun juga jatuh pada Maret 1907 dan Tiku memutuskan untuk bersembunyi di hutan.
Pada 30 Juni 1907 Tiku dan dua anak buahnya ditangkap oleh pasukan Belanda. Setelah beberapa hari di penjara, pada 10 Juli 1907 Tiku ditembak mati oleh tentara Belanda di dekat Sungai Sa'dan. Beberapa laporan menyatakan bahwa ia sedang mandi pada saat itu. Ia dimakamkan bersama seluruh keluarganya di Tondol.
(Erha Aprili Ramadhoni)