JAKARTA - Pong Tiku atau dikenal sebagai Ne Baso, merupakan seorang pahlawan nasional yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai pemimpin dan pejuang gerilya dalam perang melawan kolonialisme Belanda di tanah kelahirannya tersebut.
Putra dari penguasa Pangala ini menjadi pemimpin perlawanan paling lama di Sulawesi. Gubernur Jenderal JB van Heutsz menganggapnya perusak stabilitas kontrol Belanda atas wilayah Sulawesi.
Sejak kematiannya, Tiku menjadi simbol perlawanan Toraja. Ia resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 2002.
Lantas, bagaimana kisah hidupnya? Berikut pembahasannya sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Sabtu (12/11/2022) :
Masa Muda
Pada 1846, Pong Tiku lahir di dekat Rantepao, dataran tinggi Sulawesi yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara keluarga Siambo Karaeng dan istrinya Leb'ok.
Tiku dikenal sebagai pemuda yang atletis dan bersahabat baik dengan para pedagang kopi yang berkunjung ke desanya.
Pada 1880, terjadi perang antara Pangala dan Baruppu. Dalam konflik ini, Tiku diperintahkan sang ayah untuk memimpin Laskar Pangala. Negara Baruppu pun berhasil dikuasainya dan menjadi wilayah kekuasaannya.
Sejak saat itu, Pong Tiku diakui oleh para pemangku adat yang lain di Tana Toraja. Sebagai pemimpin, Tiku bekerja untuk memperkuat ekonomi untuk meningkatkan perdagangan kopi dan membentuk aliansi strategis dengan penduduk dataran rendah yang didominasi orang Bugis. Keberhasilan ekonomi yang dibawanya membuat penguasa terdekatnya menghormati dan iri pada Tiku.