Indonesia adalah negara kedua yang meluncurkan JETP. Di antara sepuluh penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, Indonesia kini sedang mempercepat transisinya ke energi bersih melalui penguatan komitmen JETP untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya energi terbarukan yang melimpah dan komitmen politik yang kuat untuk menghentikan secara bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara dalam jangka menengah.
Untuk mendukung komitmen dan tindakan ini, JETP Indonesia akan memobilisasi USD20 miliar selama tiga sampai lima tahun ke depan. Sebesar USD10 miliar uang publik akan dimobilisasi oleh anggota IPG dan setidaknya USD10 miliar keuangan swasta akan dimobilisasi dan difasilitasi oleh Kelompok Kerja Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ).
Inggris Raya telah menjadi anggota penting IPG yang membantu menyetujui JETP baru yang ambisius ini dengan Indonesia. Inggris siap mendukung pelaksanaan kemitraan, termasuk melalui jaminan Bank Dunia senilai USD1 miliar. Fasilitas ini akan memungkinkan Pemerintah Indonesia untuk memperpanjang pinjaman mereka dengan persyaratan Bank Dunia yang terjangkau hingga USD1 miliar.
Kemitraan ini akan menjadi perjanjian politik jangka panjang antara Pemerintah Indonesia dan IPG yang terdiri dari Amerika Serikat dan Jepang sebagai pimpinan bersama, bersama dengan Inggris, Jerman, Prancis, Uni Eropa, Kanada, Italia, Norwegia, dan Denmark.
“Kesenjangan infrastruktur global sangat besar, dan tidak ada satu negara pun yang dapat memperbaikinya sendiri. Itulah mengapa kami menciptakan Kemitraan untuk Investasi Infrastruktur Global di bawah Kepresidenan G7 Inggris tahun lalu. Hari ini saya bangga bahwa kami meluncurkan Kemitraan Transisi Energi Indonesia yang Adil, untuk membantu mempercepat transisi Indonesia ke ekonomi hijau dan membuka miliaran pembiayaan swasta untuk infrastruktur baru,” kata Sunak.