Lalu pada 1995, ahli geofisika Amerika Bruce Luyendyk kembali menggambarkan wilayah tersebut sebagai benua dan menyarankan untuk menyebutnya Zealandia. Dari sana, Tulloch menyebutkan penemuan ini sebagai kurva eksponensial.
Di waktu bersamaan, "Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut" mulai berlaku, dan pada akhirnya memberikan motivasi serius untuk menemukan benua tersebut.
Konvensi itu menyatakan bahwa negara-negara dapat memperluas wilayah hukum mereka di luar Zona Ekonomi Eksklusif, yang mencapai 200 mil laut (370km) dari garis pantai, untuk mengklaim "landas kontinen yang diperpanjang" — dengan semua kekayaan mineral dan minyak yang terkandung di dalamnya.
Jika Selandia Baru dapat membuktikan bahwa ia adalah bagian dari benua yang lebih besar, maka negara ini dapat meningkatkan wilayahnya sebesar enam kali lipat.
Tiba-tiba ada banyak dana untuk perjalanan dan survei ke wilayah tersebut, dan bukti-bukti yang dikumpulkan berangsur-angsur bertambah. Dengan setiap sampel batu yang dikumpulkan, keberadaan Zealandia semakin terkuak.
Perkembangan terakhir datang dari data satelit, yang dapat digunakan untuk melacak variasi kecil dalam gravitasi di berbagai bagian kerak Bumi untuk memetakan dasar laut. Dengan teknologi ini, Zealandia jelas terlihat sebagai massa berbentuk aneh dengan ukuran nyaris sebesar Australia. Saat keberadaan benua tersebut akhirnya dibuka pada dunia, terbuka juga lah wilayah maritim terbesar di dunia.
"Ini agak keren," ujar Mortimer. "Jika Anda memikirkannya, setiap benua di planet ini memiliki beberapa negara berbeda, tapi hanya ada tiga [negara] di Zealandia."
Selain Selandia Baru, benua ini mencakup pulai Kaledonia Baru — koloni Prancis yang terkenal dengan laguna-laguna memesona — dan wilayah kecil milik Australia, Pulau Lord Howe dan Piramida Ball. Wilayah yang terakhir disebut digambarkan oleh seorang penjelajah Abad ke-18 sebagai "tampak tidak lebih besar dari sebuah perahu".