Ahmad tidak ingin anak-anak terus terpuruk. Ia meyakini anak adalah aset bangsa. Maka, menurutnya perlu ada suatu gerakan yang lahir dari kesadaran kelompok intelektual, sebuah gerakan literasi yang membangkitkan kecintaan anak-anak pada dunia baca. Itulah mengapa pada akhirnya ia menginisiasi lahirnya Uma Lengge Mengajar.
Foto: dok Kemendikbudristek
Nama Uma Lengge terinspirasi dari bagunan tradisional suku Mbojo yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan lumbung. Suatu hal yang fundamental dalam masyarakat agraris. Nama itu ia pilih karena keyakinannya bahwa pendidikan merupakan elemen fundamental dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di Kecamatan Wawo tempat ia berasal.
Awalnya Uma Lengge Mengajar menuai cibiran dari Sebagian masyarakat. Bahkan, keluarganya pun tak sepakat dengan upaya Ahmad. Namun, kondisi itu tidak mematahkan semangat Ahmad dan kawan-kawannya untuk membangun pendidikan masyarakat Wawo.
Ahmad dan rekan relawan di Uma Lengge Mengajar memiliki dua fokus utama, yakni kegiatan internal khusus yang diperuntukkan untuk para relawan dan fun literacy. Kegiatan internal ini berupa diskusi ilmiah, bedah buku, serta pelatihan penerapan metode dan strategi pembelajaran literasi yang tepat bagi masyarakat.