Profil Laksamana TNI Yudo Margono
Laksamana TNI Yudo Margono merupakan anak seorang petani. Dirinya lahir di Madiun, Jawa Timur, pada tahun 1965. Dia lulus dari Akademi Angkatan Laut (AAL) ke-33 pada 1988.
Walau menjadi anggota TNI AL, Yudo juga kuliah mahasiswa S-1 Ekonomi Manajemen pada 2014, dilanjutkan S-2 Manajemen.
Lalu, dari sisi karier di dunia militer, dia pernah memegang 19 jabatan sejak 1988. Termasuk menjadi komandan di delapan tempat yang berbeda.
Yudo mengalawi karier militernya dengan mengikuti sederet pendidikan militer sejak tahun 1900-an. Misalnya Kursus Koordinasi Bantuan Tembakan (Korbantem) (1989), Kursus Perencanaan Operasi Amphibi (1990), Kursus Pariksa (1992), Pendidikan Spesialisasi Perwira (Dikspespa)/Kom Angkatan 6 (1992-1993), Pendidikan Lanjutan Perwira (Diklapa) ll/Koum Angkatan 11 (1997-1998), Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) A-40 (2003), Sesko TNI A-38 (2011), dan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Rl PPRA A-52 (2014).
Yudo mengawali karier di kapal perang selepas lulus dari Akademi Angkatan Laut. Dirinya saat itu menjadi Asisten Perwira Divisi (Aspadiv) Senjata Artileri Rudal di KRI YNS 332 (1988), Kadep Ops KRI Ki Hajar Dewantara 364.
Kerier Yudo kian moncer di TNI AL. Dia lalu menjadi Komandan KRI Pandrong 801, Komandan KRI Sutanto 877, Komandan KRI Ahmad Yani 351, Komandan Lanal Tual (2004-2008), Komandan Lanal Sorong (2008-2010).
Yudo lalu menjabat Komandan Satkat Koarmatim pada 2010. Kemudian dirinya ditunjuk menjadi Panglima Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) pada 2017-2018.
Selanjutnya, dirinya dipercaya mengemban Panglima Komando Armada I (sebelumnya Pangkoarmabar) yang menduduki wilayah laut Indonesia bagian barat (2018-2019).
Pada 2018 tersebut, tim merupakan penemu black box atau kotak hitam Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.
Pada 2019-2020, dia menjabat Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I, komando utama operasi Markas Besar Tentara Nasional Indonesia.
Yudo berada di pangkat bintang tiga atau laksamana madya saat Pangkogabwilhan I ini. Dirinya saat itu mampu meredam ketegangan di wilayah Natuna, Kepulauan Riau, karena adanya pelanggaran oleh kapal nelayan China pada 2020.
Berbekal prestasinya, Yudo kemudian dipercaya mengemban jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) untuk menggantikan Laksamana TNI Siwi Sukma Adji yang memasuki masa pensiun pada 2020.
Sederet penghargaan diraih Laksamana Yudo atas prestasinya. Antara lain, Bintang Dharma, Bintang Jalasena Utama, Bintang Kartika Eka Paksi Utama, Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama, Bintang Bhayangkara Utama, dan Bintang Jalasena Naraya.
Terkini, dia menyabet penghargaan Pingat Jasa Gemilang - Tentera (PJG) - Singapura (2022) dan Honorary Member of the Order of Australia (Military Division) - Australia (2022).
Sementara sejumlah brevet pernah didapatnya, brevet atas air, brevet selam TNI AL, brevet kavaleri Marinir kelas I, brevet Hiu Kencana, brevet Kopaska, Wing Penerbang TNI AU, dan Wing Penerbal.
(Khafid Mardiyansyah)