Misteri domestikasi
Para ilmuwan meyakini semangka yang kita santap sekarang, memiliki nama ilmiah Citrullus lanatus subsp. Vulgaris, bukan merupakan keturunan langsung spesies dalam kajian melainkan dari populasi lain yang sempat bertukar gen dengan semangka Libya 6.000 tahun lalu.
Salah satu pertanyaan besar yang belum terjawab adalah kapan semangka yang kita konsumsi zaman sekarang didomestikasi? Dengan kata lain, pada tahun berapa seseorang mulai menyeleksi semangka-semangka ini untuk dicari sifat yang diinginkan lalu membudidayakanya?
“Satu hipotesis yang kami punya adalah sebelum semangka didomestikasi untuk tipe kegunaan apapun, apakah bijinya atau buahnya yang merah, nenek moyang spesies ini adalah semangka yang pahit, buahnya yang putih, dan berbiji kecil,” papar Perez-Escobar.
“Kemudian suatu hari seseorang secara kebetulan menemukan tanaman yang bermutasi sehingga dagingnya merah atau kuning manis.”
“Lantas orang itu mengambil bijinya dan mulai membudidayakannya.”
Mengapa temuan di Libya penting?
Memahami semangka di masa lampau krusial untuk masa depan, menurut Pérez-Escobar.
Manakala manusia mendomestikasi sebuah tanaman selalu ada keragaman genetika yang hilang. Dengan kata lain, ada suatu rangkaian karakter yang dulu dimiliki sebuah tanaman tapi itu lenyap.
Karena itu, memahami sejarah tanaman membuat kita bisa megidentifikasi “kumpulan genetika” pada tanaman-tanaman yang pada masa lalu berbagi gen dengan tanaman yang kita konsumsi sekarang.
“Kini dengan perubahan iklim, kita dihadapkan pada urgensi besar untuk memproduksi tanaman pada skala besar dan sangat cepat, yang lebih bisa beradaptasi pada berbagai kondisi, misalnya, di cuaca yang lebih kering,” jelas Pérez-Escobar kepada BBC Mundo.
“Adapun varietas-varietas yang berhubungan dekat dengan semangka yang kita santap sekarang mungkin punya gen yang membuat mereka bisa menoleransi hama tertentu atau tahan pada kekeringan, atau kondisi yang airnya asin.”
“Mengkaji masa lalu dengan menggunakan arkeogenomi membuat kita bisa memahami bagaimana nenek moyang tanaman yang kita santap sekarang bisa beradaptasi pada perubahan iklim dan menoleransi penyakit.”
(Erha Aprili Ramadhoni)