Oleh karena itu, setiap pasukan utama mengorganisir layanan kamuflase dari pasukan yang terlatih khusus untuk mempraktikkan seni penipuan. Hal ini sama seperti pola pada seragam loreng tentara yang bertujuan untuk berkamuflase dan disesuaikan dengan medan tempurnya.
Menjelang Perang Dunia II, kemampuan pesawat untuk pengeboman jarak jauh meningkat sehingga mengancam negara-negara yang berperang secara keseluruhan. Hal ini meningkatkan kepentingan dan cakupan dalam kamuflase.
Dalam Perang Dunia II, hampir semua kepentingan militer disamarkan sampai tingkat tertentu menggunakan bahan-bahan seperti pola cat belang-belang berwarna kusam, hiasan kain, kawat ayam, jaring, dan penggunaan dedaunan alami.
Penyamaran ini bertujuan agar senjata, kendaraan, atau instalasi yang dipakai tidak dapat dibedakan dari vegetasi dan medan di sekitarnya jika dilihat dari udara.
Hampir semua kendaraan membawa jaring kamuflase dan dicat dengan warna kehijauan, keabu-abuan, atau coklat. Semua personel militer pun menerima pelatihan dasar-dasar kamuflase selama pelatihan dasar.
(Awaludin)