Sebelum memasuki Ordo Karmel pada usia 19 tahun, Suster Mary Elizabeth dikenal dengan nama Lisa Tinkler, yang berasal dari Middlesbrough.
Meski orangtuanya tidak beragama, ziarah tantenya ke Lourdes membangkitkan sesuatu di dalam Lisa yang berumur enam tahun. Bahkan, ia meminta kepada ayahnya untuk mendirikan altar di kamarnya.
"Saya memiliki patung kecil Bunda Maria di atasnya dan botol kecil berisi air dari Lourdes. Sebenarnya, saya pikir yang suci adalah botolnya, bukan airnya - sehingga saya terus mengisinya dari keran dan minum air itu," kata Lisa.
Lisa kemudian menemukan salah satu gereja Katolik Roma di kotanya dan ia duduk sendirian di barisan kedua.
Di situlah, ia menumbuhkan rasa cinta mendalam kepada Bunda Maria, ibunda Yesus, serta perasaan bahwa dia punya panggilan.
Sebuah retret yang digelar di biara saat ia masih remaja membuat dia semakin yakin akan panggilan itu. Biara itu diurus oleh para suster Karmel dari ordo yang didirikan sejak abad ke-12.
Kehidupan di situ cukup sederhana, terpencil, dan ketat - tetapi dia memutuskan bahwa itulah kehidupan yang ingin dia jalani.
Walaupun Lisa ingin langsung bergabung, ibunya - yang sebenarnya kurang setuju dengan keputusan anaknya - diam-diam menulis surat kepada kesusteran untuk meminta kepergian Lisa ditunda beberapa bulan. Supaya Lisa dapat menghabiskan satu Natal terakhir di rumah.
Ia bergabung pada tahun baru.
"Sejak saat itu, saya hidup bagaikan pertapa. Kami mendapatkan waktu rekreasi dua kali sehari selama setengah jam. Saat itu kami boleh berbicara, tapi di luar waktu tersebut kami berdiam diri di bilik masing-masing. Kami tidak bekerja dengan siapapun, selalu sendirian," kata Lisa Tinkler—nama Suster Mary Elizabeth sebelum menjadi biarawati.